Friday, November 30, 2018

KENAPA MIMBAR RASULULLAH SAW BERADA DIKIRI 'ARSY ?

KENAPA MIMBAR RASULULLAH SAW BERADA DIKIRI 'ARSY ?
-
Rasulullah Saw bersabda, "Ketahuilah bahwa mimbarnya Nabi Ibrahim AS berada disebelah kanan Arsy dan mimbarku disebelah kiri Arsy-Nya Allah Swt". Maka para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, engkau lebih utama dari Nabi Ibrahim. Kenapa engkau ditempatkan disebelah kiri Arsy, sedangkan Nabi Ibrahim disebelah kanannya Arsy?". Rasulullah menjawab, "Jalan ke Surga berada disebelah kanan Arsy, sedangkan jalan menuju Neraka disebelah kiri Arsy.

Aku berada disebelah kiri, supaya aku dapat melihat umatku yang akan dimasukkan ke Neraka dan kemudian aku berikan syafa'at kepadanya". Ketika aku berada dimimbarku, aku mendengar jeritan umatku, berteriak-teriak seraya berkata,"Pahalaku sedikit dan dosaku banyak!". *Rasulullah Saw berkata kepada Malaikat,"Jangan masukkan dia ke Neraka". Malaikat menjawab, "Aku adalah Malaikat yang melaksanakan apa saja yang diperintahkan Allah Swt kepadaku". Maka Rasulullah turun dari mimbarnya dan sujud satu kali dihadapan Allah Swt.

Kemudian Allah Swt memerintahkan kepada Malaikat untuk tidak memasukkan orang tersebut ke Neraka karena sujudku". "Aku perintahkan kepada Malaikat untuk menimbang kembali amalnya serta aku berikan kepadanya pahala shalawat atasku yang sedikit pada timbangannya.

Maka bertambahlah pahalanya dan berkuranglah dosanya.

Kemudian orang itu memegangku erat-erat sambil berkata, "Siapakah engkau yang telah menolongku dari siksa yang dahsyat? ". Maka Rasulullah Saw bertanya, "Apakah engkau tidak mengenalku? Ketahuilah bahwa aku ini Nabimu dan penolongmu.. Aku adalah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam ...
-
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
-
almadad.yarosulallah

Tuesday, November 27, 2018

Perhatian Rasulullah Muhammad SAW Kepada Sahabat Yang Jomblo

Perhatian Rasulullah Muhammad SAW Kepada Sahabat Yang Jomblo

Nabi SAW memiliki pembantu bernama Rabi’ah bin Ka’ab. Dia setiap hari sibuk melayani Nabi SAW hingga dirinya lupa untuk menikah. Mengetahui kondisi ini, Nabi SAW bertanya, “Wahai Rabi’ah, apakah kamu tidak ingin menikah?.”
.
“Demi Allah, wahai Rasulullah, aku belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa menanggung seorang wanita. Selain itu, aku tak ingin ada hal yang membuatku sibuk dari melayanimu,” jawab Rabi’ah memberi alasan.
.
Kemudian Nabi SAW pun berlalu. Rabi’ah kembali melayani beliau seperti biasa.
.
Pada kesempatan berikutnya, beliau bertanya untuk kedua kalinya, “Wahai Rabi’ah, apakah kamu tidak ingin menikah?.”
.
“Aku belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa menanggung seorang wanita. Selain itu, aku tak ingin ada sesuatu yang membuatku sibuk dari melayanimu.”, jawab Rabi’ah memberi alasan seperti semula.
.
Nabi SAW pun berlalu. Dalam kesendirian, Rabi’ah merenungi pertanyaan Nabi SAW dan membatin, “Demi Allah, sungguh Rasulullah SAW tahu sesuatu yang terbaik untuk kehidupan duniaku dan akhiratku. Dia lebih tahu dari diriku. Demi Allah, seandainya beliau kembali bertanya tentang menikah, akan kukatakan kepadanya, ‘Iya Rasulullah, perintahkanlah aku dengan sesuatu yang engkau kehendaki.’”
.
Tak selang beberapa lama, Nabi SAW kembali bertanya, “Wahai Rabi’ah, apakah kamu tidak ingin menikah?.”
.
“Tentu mau, perintahkan aku dengan apa yang Engkau kehendaki,” jawab Rabi’ah dengan yakin akan ucapannya.
.
Nabi SAW kemudian memerintahkan, “Pergilah pada keluarga Fulan. Suatu kampung dari kalangan Anshar.” Mereka lambat menunaikan perintah Nabi SAW. “Katakan pada mereka, Rasulullah SAW mengutusku kepada kalian. Dia memerintahkan agar kalian menikahkanku dengan Fulanah -salah seorang wanita dari kalangan mereka-.”
.
Rabi’ah pun pergi kepada meraka dan menyampaikan pesan sebagaimana yang diperinthkan oleh Nabi SAW.
.
“Selamat datang kepada Rasulullah SAW dan utusannya. Demi Allah, utusan Rasulullah SAW tidak akan pulang kecuali keperluannya telah terpenuhi,” sambut mereka dengan senang hati.
.
Mereka menikahkan Rabi’ah dan bersikap lemah lembut terhadapnya. Mereka sama sekali tidak minta penjelasan padanya.

Kemudian Rabi’ah kembali menemui Rasulullah SAW dalam keadaan haru. Nabi SAW pun bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai Rabi’ah?.”
.
“Wahai Rasulullah, aku menemui suatu kaum yang mulia. Mereka menikahkanku, memuliakanku, dan bersikap baik kepadaku. Mereka sama sekali tidak meminta bukti. Hanya sayangnya, aku tidak memiliki mas kawin.”, jawab Rabi’ah.
.
Rasulullah SAW berkata, “Wahai Buraidah al-Aslami, kumpulkan untuknya sebiji emas.”
.
Mendengar hal itu, para sahabat mengumpulkan biji emas untuk Rabi’ah, lalu dia membawa emas yang sudah terkumpul kepada Nabi SAW. Beliau berkata, “Pergilah kepada mereka dengan membawa ini. Katakan! ini adalah mas kawinnya.”
.
Rabi’ah berangkat menemui mereka dan berkata, “Ini mas kawinnya”. “Mas kawin seperti ini sudah sangat banyak dan baik sekali”, kata mereka dengan perasaan ridha dan menerimanya.

Lalu para sahabat mengumpulkan kambing yang banyak dan gemuk. Setelah itu, Rasulullah SAW berkata pada Rabi’ah, “Pergilah dan temuilah Aisyah dan katakan padanya agar dia mengirim beberapa keranjang berisi makanan”. Ia pun menemui Aisyah dan mengatakan segala yang Rasulullah SAW perintahkan.
.
Mendengar perintah ini, Aisyah kemudian berkata, “Ini keranjang berisi sembilan sha’ gandum. Demi Allah, jika besok ada makanan lain, ambillah.”
.
"Bawalah barang-barang ini ke sana, dan katakan pada mereka agar mereka gunakan untuk membuat roti”. Perintah Nabi SAW pada Rabi’ah setelah menerima gandum dari Aisyah.
.
Rabi’ah kemudian berangkat dengan membawa kambing dan berangkat bersama beberapa orang dari Aslam.
.
Seorang dari Aslam berkata, “Tolong besok barang-barang ini telah diolah menjadi roti”.
.
Bersama beberapa orang Aslam, Rabi’ah menemui mereka dengan membawa kambing. Salah seorang dari Aslam mengatakan “Tolong besok gandum ini diolah menjadi roti, dan kambing ini telah dimasak”.

 Mereka menjawab, “Untuk membuat roti, cukuplah kami saja. Tapi untuk menyembelih kambing, kalianlah yang mengerjakannya”.
.
Segera Rabi’ah dan kawannya menyembelih dan membersihkan kambingnya, kemudian memasaknya. Akhirnya tersedialah daging dan roti. Ia mengadakan walimah dengan mengundang Rasulullah SAW dan beliau pun memenuhi undangannya.
.
(Sumber : Kitab Al-Musnad)
Syeihk Khalil

Sunday, November 25, 2018

Doa Agar Tidak Gagal Panen Buat Petani

Doa Cegah Gagal Panen

Mereka yang mengambil profesi sebagai petani tentu akan berharap kerja cocok tanamnya memberikan syukur-syukur hasil yang terbaik. Tidak gagal saja sudah sangat syukur. Pasalnya kegagalan panen berdampak luas selain kerugian pada permodalan.
.
Selain memberikan pupuk yang cocok dan menjaganya dari gangguan hama, petani juga perlu melakukan upaya lain untuk mengamankan ladang atau lahan pertaniannya seperti berdoa, bersedekah, atau mengadakan selamatan.
.
Berikut ini adalah doa Rasulullah SAW saat salah seorang warga menunjukkan buah kurma yang pertama matang dari ladangnya.
.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ ثَمَرِنَا ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مَدِيْنَتِنَا ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِنَا ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مُدِّنَا
.
Allâhumma bârik lanâ fî tsamarinâ, wa bârik lanâ fi madînatinâ, wa bârik lanâ fî shâ‘ina, wa bârik lanâ fî muddinâ.
.
Artinya, “Tuhanku, berkatilah kami pada buah-buahan kami. Berkatilah kami pada kota kami. berkatilah kami pada gantang kami. berkatilah kami pada alat takar (mud) kami.”
.
Pada riwayat lain, Rasulullah SAW memohon keberkahan dari hasil panen. Rasulullah membaca doa seperti ini.
.
بَرَكَةً مَعَ بَرَكَةٍ
.
Barakatan ma‘a barakatin
.
Artinya, “Semoga Allah menambah keberkahan berlipat ganda.”
.
Secara jelas Rasulullah SAW berdoa agar Allah SWT memelihara ladang yang sudah mulai berbuah hingga akhir masa panen dari segala gangguan yang menyebabkan gagal panen. Inilah doanya.
.
اَللَّهُمَّ كَمَا أَرَيْتَنَا أَوَّلَهُ فَأَرِنَا آخِرَهُ
.
Allâhumma kamâ araitanâ awwalahû, fa arinâ âkhirahû
.
Artinya, “Tuhanku, perlihatkanlah kepada kami hasil akhir cocok tanam kami sebagaimana Engkau memperlihatkan hasil awalnya.”
.
Rasulullah SAW membaca doa ini agar salah seorang warga pemilik ladang yang mendatanginya tidak mengalami gagal panen. Kemudian Rasulullah memanggil salah seorang anak kecil yang ada di dekatnya. Beliau kemudian memberikan buah hasil panen pertama yang dibawa petani itu kepada anak tersebut.
.
Semua doa Rasulullah SAW ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Nuonline_id

Doa Ta’ziyah Melayat Mayit

Doa Ta’ziyah
.
Ta'ziyah atau melayat orang yang meninggal dunia merupakan bagian dari ibadah yang dianjurkan dalam Islam, baik sebelum jenazah dikebumikan maupun sesudahnya hingga sekitar tiga hari.

Ta'ziyah bermakna membantu, dengan membesarkan hati orang-orang yang ditinggalkan agar sabar, tenang, dan ikhlas terhadap musibah yang dialami. Karena itu nilai ta'ziyah lebih dari sekadar berkunjung ke rumah duka. Ia mengandung pula empati, solidaritas sosial, doa, dan tentu saja pelaksanaan dari anjuran Rasulullah.
.
Saat melaksanakan ta'ziyah, si pelayat dianjurkan membaca doa berikut ini:
.
أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لمَيِّتِكَ
.
A‘dlamaLlâhu ajraka wa ahsana ‘azâ’aka wa ghafaraka li mayyitika
.
Artinya: "Semoga Allah memperbesar pahalamu, dan menjadikan baik musibahmu, dan mengampuni jenazahmu." (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)
.
Atau bisa juga:

إِنَّ لِلهِ تَعَالى مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى فمُرْهَا فَلْتَصْبرْ وَلْتَحْتَسِبْ
.
Inna liLlâhi taâlâ mâ akhadza wa lahu mâ a’thâ wa kullu syai-in ‘indahu bi ajalin musammâ famurhâ faltashbir wal tahtasib
.
Artinya: “Sesungguhnya Allah maha memiliki atas apa yang Dia ambil dan Dia berikan. Segala sesuatu mempunyai masa-masa yang telah ditetapkan di sisi-Nya. Hendaklah kamu bersabar dan mohon pahala (dari Allah).” (HR Bukhari dan Muslim)
.
(Mahbib)


Nuonline_id

Doa untuk Non-Muslim yang Berbuat Baik

Doa untuk Non-Muslim yang Berbuat Baik
.
Islam mengajarkan berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada apa saja. Pesan bahwa Rasulullah diutus sebagai penebar kasih sayang bagi seluruh alam (rahamtan lil alamin) merupakan legitimasi dari sikap tersebut. Sebagaimana pula Allah yang diyakini sebagai rabbul 'alamin (Tuhan bagi seluruh alam).
.
Begitu pula kepada nonmuslim. Islam memang memiliki garis tegas secara akidah yang berbeda dari agama-agama lain. Islam juga tak menoleransi semua pemikiran dan perilaku yang berseberangan dengan prinsip tauhid. Tapi bukan berarti perbedaan itu mesti merenggangkan tali silaturahim dan pergaulan secara wajar dalam masyarakat.

Itu pula yang diteladankan Rasulullah. Beliau bergaul secara baik dengan siapa saja dan dari kelas mana saja. Hingga orang-orang yang tak mengikuti risalahnya pun menaruh simpatik kepadanya. Seperti terungkap dalam hadits dari Anas radliyallâhu ‘anh bahwa tatkala Nabi membutuhkan minum seorang pria dari kalangan Yahudi memberinya air. Rasulullah pun membalasnya dengan doa “JammalakaLlâh (semoga Allah memperelok dirimu)”. Berkat doa ini, orang Yahudi tersebut tak memiliki uban satu pun hingga akhir hayatnya.
.
Atas hadits ini ulama bersepakat tentang kebolehan mendoakan dzimmî (nonmuslim yang taat terhadap konstitusi), seperti doa atas kesehatan badannya, kelancaran rezekinya, sukses pekerjaannya, dan lain sebagainya. Demikian Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi (Imam Nawawi) dalam kitab Al-Adzkâr. Redaksi kalimat dan jenis bahasa doa bisa menyesuaikan konteksnya.
.
Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa tak boleh mendoakan dzimmi dengan permohonan ampunan. Pendapat ini muncul karena secara teologi memang ada perbedaan antara Muslim dan nonmuslim). Tapi ia membolehkan doa-doa yang bersifat umum yang berkaitan dengan hal-hal duniawi.
.
يجوزُ أن يُدعى بالهداية وصحةِ البدن والعافية وشبهِ ذلك

“Boleh mendoakannya agar mendapat petunjuk, sehat badan, dan cukup rezeki, dan sejenisnya.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)
.
(Mahbib)

Nuonline_id

Berapa Kali Kita Ber Shalawat Minimal Dalam Sehari?

Berapa Kali Kita Ber Shalawat Minimal Dalam Sehari?

An-Nabhani adalah salah satu ulama yang banyak berbicara tentang hadits-hadits shalawat. Di dalam kitabnya itu ia menuturkan beberapa sabda Rasulullah tentang shalawat di antaranya sebagai berikut:
.
أكثروا من الصلاة علي فأن أول ما تسألون في القبر عني
.
Artinya: “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sesungguhnya yang pertama kali ditanyakan kepada kalian di kubur adalah tentang aku.” .

الصلاة علي نور يوم القيامة عند ظلمة الصراط فأكثروا من الصلاة علي
.
Artinya: “Bershalawat kepadaku adalah cahaya di hari kiamat di saat gelapnya shirat. Maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku.”
.
Masih ada banyak sabda Rasulullah yang menganjurkan umatnya untuk memperbanyak bacaan shalawat kepada beliau. Banyak pula ulama yang membahas perihal ini di dalam kitab-kitab karya mereka.
.
Pertanyaannya kemudian adalah berapa jumlah minimal seseorang dapat dikatakan telah memperbanyak bershalawat kepada nabi?
.
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Imam Sya’rani di dalam kitabnya Kasyful Ghummah menuturkan bahwa sebagian ulama berpendapat bilangan minimal dalam memperbanyak shalawat kepada Nabi adalah 700 kali di tiap siang hari dan 700 kali di tiap malam hari. Sedangkan ulama lainnya mengatakan minimal 350 kali di waktu siang dan 350 kali di waktu malam.
.
Sementara Syekh Abu Thalib Al-Makki di dalam kitab Qûtul Qulûb menyebutkan bahwa jumlah minimal dalam memperbanyak membaca shalawat adalah 300 kali di siang dan malam hari. Beliau mengatakan:
.
وليكثر من الصلاة على النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في يوم الجمعة وليلتها وأقل ذلك أن يصلّي عليه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثلاثمائة مرة
.
Artinya: “Dan hendaknya memperbanyak bershalawat kepada Nabi di hari dan malam Jumat. Jumlah minimal dalam memperbanyak membaca shalawat adalah tiga ratus kali.” (Abu Thalib Al-Makki, Qûtul Qulûb, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2016, jil. I, hal. 121)

Nuonline_id

Kisah Pertemuan Mbah Mangli dan Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki

KISAH PERTEMUAN MBAH MANGLI DAN SAYYID MUHAMMAD AL MALIKI
.
Barangkali sudah banyak yang tahu, siapa foto orang yang dirangkul oleh Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki tersebut.
Beliau adalah salah satu wali besar di tanah Jawa, yaitu Mbah Hasan Mangli Magelang.

Pada acara multaqo, saya dan ashab rombongan dari Malang mendengarkan kisah lengkapnya dari santri Abuya yang tahu persis dan mengalami akan kejadian tersebut.

Sudah sangat mafhum, bahwa rumah Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki di Mekkah menjadi jujugan ziarah bagi para jamaah haji dari seluruh dunia. Bahkan Habib Salim Asy Syathiri, seorang alim yang dijuluki Sulthonul Ulama, menyebutkan bahwa setelah thowaf di Ka'bah, maka untuk menambah dan melengkapi fadhilah haji dianjurkan untuk thowaf (ziarah) di kediaman Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki.

Waktu itu, seperti biasanya, jamaah haji berbondong-bondong datang sowan ke kediaman Abuya. Akan tetapi ada seseorang yang datang, dan ketika memasuki gerbang kediaman Abuya orang ini berjalan dengan adab orang Jawa. Seperti seseorang yang mau menghadap raja. Tidak menggunakan dua kaki, tetapi berjalan dengan kedua lututnya. Setelah sampai di dalam, orang ini langsung masuk dan duduk di balik tiang yang paling belakang. Dan tidak ada seorangpun yang menghiraukannya.

Abuya saat itu masih sibuk menemui tamu-tamunya. Tiba-tiba Abuya berteriak, "hei, ada orang besar di sini. Coba cari dan suruh ke sini. Beliau dari Magelang ... dari Magelang ..." Maka para santripun mencari orang yang dimaksud Abuya. Ada ungkapan, laa ya'riful wali illal wali, benar adanya. Abuya tidak tahu siapa saja yang akan datang hari itu dan dari mana saja. Akan tetapi Abuya seperti merasakan kehadiran orang besar dari Indonesia, tepatnya dari Magelang. Maka para santripun mencari orang yang dimaksud oleh Abuya. Satu persatu para peziarah ditanyai, adakah jamaah yang dari Magelang?

Setelah mencari cukup lama dan tidak ditemukan orang yang dimaksud. Terlihat ada jamaah haji yang duduk paling belakang menunjuk ke arah tiang. Dengan sedikit takut nunjuknya. Maka santri yang ditugaskan mencari, berjalan ke arah belakang. Benar saja, di balik tiang yang paling belakang duduk sosok sepuh, Mbah Hasan Mangli yang berasal dari Magelang dengan menundukkan kepala. Maka oleh santri tersebut beliau dipersilahkan untuk maju menemui Abuya. Akan tetapi Mbah Hasan Mangli tidak berkenan, tetap masih duduk dan menunduk. Abuya pun tahu. Maka Abuya memerintahkan santri yang asli Arab untuk membawa Mbah Hasan Mangli menemui Abuya. Akhirnya berhasil lah Mbah Hasan Mangli dibawa menghadap Abuya.

Setelah bertemu, Abuyapun merangkul Mbah Hasan Mangli, kemudian Abuya berteriak, "showwir... showwir..." potret... potret. Maka Habib Idrus, santri Abuya yang berkhidmah bagian motret pun segera melaksanakan perintah Abuya.

Sepertinya Abuya tahu, bahwa salah satu karomah Mbah Hasan Mangli adalah tidak bisa dipotret. Dan inilah fotonya. Foto Abuya sedang merangkul Mbah Hasan Mangli. Dan yang bikin heran adalah, pada saat Abuya memerintahkan memotret, di saat yang bersamaan banyak jamaah yang mengabadikan momen tersebut. Akan tetapi hasil foto yang jadi, hanya hasil foto yang dibidik oleh Habib Idrus santri suruhan gurunya.

Demikian kisah singkat pertemuan Prof. DR. Al Muhaddits Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al Maliki Al Hasani dengan Mbah Hasan Mangli Magelang.

Sumber : Sayyid Taufiq Al Jaelani.

Kisah Cinta Dahsyat Seorang Anak Kecil Kepada Nabi Muhammad Yang Terbawa Hingga Matinya

DAHSYATNYA CINTA YANG LUAR BIASA DARI SEORANG ANAK KECIL
KEPADA NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM BAHKAN SAMPAI
ANAK ITU DIKUBURKAN

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Terjadi satu kisah di zaman Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i.

Ketika sedang berkumpul dengan rombongan kafilahnya di kota Zabid (ujung kota Yaman) mereka bersiap akan berziarah ke makam Sayyidina Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam di kota Madinah.

Jarak perjalanannya membutuhkan waktu selama 2 minggu.
Ketika rombongan tadi hendak bergerak ke kota Madinah datang seorang anak kecil usia sekitar 8 tahun, Dan anak ini berkata: wahai syeikh aku hendak ikut ziarah ke makam Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam.

Tapi permintaan anak kecil itu tidak diizinkan oleh syeikh, karena kau nanti membuat susah, orang hendak ke sini kau hendak kesana.
Lalu syeikh bertanya kepada anak kecil itu, kenapa kau sangat ingin ikut.
Lalu anak itu berkata, wahai syeikh percayalah "Aku sangat rindu dengan Rasulullah".
Namun dijawabnya, ''Sudahlah kau tetap tak boleh ikut.''

Maka berjalanlah rombongan tadi. Setibanya di kota Madinah tepatnya dimakamnya
Sayyidina Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam, terkejutlah Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i
karena melihat anak kecil itu ada dihadapannya.

''Wahai anak kecil, dari mana kau datang. Bagaimana kau bisa ikut.''

''Ketika kalian berangkat, aku masuk dalam kotak/peti ikut bersama rombongan ziarah
ke makam Sayyidina Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam.''

Kata Syeikh, "aku tidak heran kalau kau masuk peti, tapi selama 2 minggu kau makan dan minum dari mana, tidak makan dan tidak minum.''

''Wahai syeikh, sungguh, aku dilupakan dari makan dan minum karena sangat rindu kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam ''.

Anak kecil tadi pun bertanya;
''Wahai syeikh apakah benar tanah ini pernah di pijak Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam ?''

Kata syeikh ''ya'.'
Kemudian anak tersebut mengambil tanah itu lalu diciumnya tanah tersebut, terus anak kecil itu tiba-tiba roboh seperti sedang pingsan.

Rupanya anak kecil itu telah wafat.
Anak kecil itu di kebumikan di luar kota Madinah karena dia penduduk luar kota.
Kemudian (selesai penguburan) rombongan itu melanjutkan melakukan ibadah umrah.

Saat pulang kembali kekampung halaman, Syeikh ini teringat kepada anak tadi, lalu ia datang menziarahi makam anak itu.

Ketika syeikh melihat keadaan makam itu, dia menjadi bingung.
Karena kubur itu awalnya ada diluar kota Madinah tapi berangsur-angsur bergeser masuk kedalam kota Madinah mendekati makam Sayyidina Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam.

Maka menangislah Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i.
Sampai sekarang makam tersebut masih ada dan makam tersebut ada terletak di seberang Masjid Nabawi.

''Wahai anak kecil betapa hebat dan mulianya engkau, sewaktu kecil kau rindu hendak ziarah
ke makam Sayyidina Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam, dan sewaktu kau wafat kau juga rindu kepada Rasulullah...''

Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i pun menangis di dalam rumahnya
“Aku ini adalah seorang imam, tapi aku malu melihat kecintaan seorang anak
yang sangat mencintai Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam .

Dan sang Imam pun menulis riwayat perjalanan cinta dahsyat anak kecil tersebut di Maulidnya.

Hebatnya cinta anak kecil kepada Habibana Sayyidina Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam.
Allahumma sholli wasallim wabaarik alaih wa ala alaih washohbih.....

"Kitab Maulid Ad Diba'i"

(Cerita Para Wali)

Siapapun Yang Mencintai Nabi Muhammad dan Keluarganya Mendapat 7 Kemuliaan


RASULULLAH SAW BERSABDA ;,
.
"PERTAMA YANG SAMPAI DI TELAGA HAUDH ADALAH KELUARGAKU DAN MEREKA YANG MENCINTAIKU DARI GOLONGAN UMATKU",
.
Al Imam Al Habib Muhammad Bin Ali Bin Alawi Khird Ba'alawi dalam Kitabnya Al Ghurar, bahwa Rasulullah Saw Bersabda :

حبي وحب أهل بيتي نافع في سبعة ﻣﻮﺍﻃﻦ أهوالهن عظيمة عند الوفاة وعند القبر وعند ﺍﻟﻨﺸﺮ وعند ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ وعند الحساب وعند الميزان وعند ﺍﻟﺼﺮﺍﻁ ,
.
"Mencintaiku dan mencintai Keluargaku bermanfaat di tujuh tempat-tempat mulia :

1. Ketika wafat.
2. Ketika di Kubur.
3. Ketika di bangkitkan.
4. Ketika pencatatan.
5. Ketika penghisaban.
6. Ketika di Mizan.
7. Ketika di Shirath.

Di riwayatkan oleh Sayyidina Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah Saw Bersabda :

لكل شيء أساس ، وأساس الإسلام حب أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وحب أهل بيته

Setiap sesuatu memiliki Asas dan Asas Islam adalah mencintai Sahabat dan Keluarga Rasulullah Saw.

Di riwayatkan oleh Al Imam At-Thabrani dari Sayyidina Ali, bahwa Rasulullah Saw Bersabda;,
.
أول من يرد الحوض أهل بيتي ومن أحبني من أمتي,

. "Pertama yang sampai di Telaga Haudh adalah Keluargaku dan mereka yang mencitaiku dari golongan Umatku",
.
لايبغضنا ولايحسدنا أحد إلا ذيد عن الحوض يوم القيامة بسياط من النار

Tidaklah yang membenci kami (Nabi Saw dan Keluarganya) dan tidak pula menghasud kami, kecuali dia terusir dari Telaga Haudh pada Hari Kiamat.
Di riwayatkan dalam Kitab Al Ghurar :,
.
من مات على بغض آل محمد جاء يوم القيامة مكتوبا بين عينيه آيس من رحمة الله

Siapa yang mati dalam keadaan benci Keluarga Rasulullah Saw, dia akan datang pada Hari Kiamat, tertulis diantara kedua matanya orang yang tidak mendapat Rahmat Allah Swt,
.
حرمت الجنة على من ظلم أهل بيتي أو قتلهم أو أعان عليهم أو سبهم. ,
.
"Diharamkan Surga atas siapa yang mendzolimi keluargaku",
.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به وسلم

Madras Ribath

Saturday, November 24, 2018

Dzikir Meminta Harta Uang

Yaa Hannan Yaa Mannan Yaa Fattah Yaa Rozak Yaa Ghonniy Yaa Mughni

Habib Novel Alaydrus

Sunday, November 18, 2018

Amal-amal Berbonus Rumah di Surga.

Majelis Nuurus Sa’aadah.

Amal-amal Berbonus Rumah di Surga.

1. Membangun masjid karena Allah.
Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّه لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة

“Siapa yang membangun satu masjid untuk Allah maka Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga.” (Muttafaq ‘alaih)

2. Membaca surat Al Ikhlas sepuluh kali.
Dari hadits Mu’adz bin Anas Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang membaca Qul Huwallaahu Ahad (Surat Al-Ikhlash) sampai menghatamkannya sebanyak sepuluh kali niscaya Allah bangunkan untuknya istana di surga.” (HR Ahmad dari Mu’adz bin Anas Al Juhani)

3. Memuji Allah dan beristirja’ saat diuji dengan kematian anak.
Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada MalaikatNya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?” Mereka berkata, “Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (Innaa Lilaahi Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namai ia Rumah Pujian.” (HR. Al-Tirmidzi dan beliau menghasankannya)

4. Membaca doa masuk pasar.
Dari Umar bin al-Khathab Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa masuk pasar lalu ia mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallaahu wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu, Yuhyii, Wayumiitu, Wahuwa Hayyun Laa Yamuutu, Biyadihil Khairu, Wahuwa ‘alaa Kulli Syai-in Qadiir” niscaya Allah menuliskan baginya sejuta kebaikan, menghapuskan darinya sejuta kejelekan, mengangkat derajatnya hingga sejuta derajat, dan membangunkan untuknya rumah di surga”." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

5. Menutup celah barisan shaf shalat.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anha, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَ رَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

“Siapa menutup celah (pada barisan shalat) niscaya Allah bangunkan untuknya rumah di surga dan mengangkat derajatnya dengan perbuatannya itu.” (HR. Al-Muhamili dalam Amaalinya)

6. Menjaga shalat-shalat sunah rawatib dua belas rakaat.

Dari Ummu Habibab Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku Mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang shalat 12 rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim)

Shalat 12 raka’at itu adalah empat rakaat sebelum Dzuhur & dua rakaat sesudahnya, dua raka’at sesudah maghrib, dua rakaat setelah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Aisyah dalam Sunan At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

7. Mengerjakan shalat dhuha dua belas rakaat.

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنَتيْ عَشرةَ رَكْعَةً إيمانا واحْتِسَابا كَتَبَ الله لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ ورَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَ
جَةٍ وَبَنى الله لَهُ بَيْتا في الجَنَّةِ وَغَفَرَ الله لَهُ ذُنُوبَه كُلَّها

Nabi Muhammad saww. bersabda : “Barangsiapa mengerjakan shalat dhuha sebanyak duabelas roka’at dengan iman dan mengharapkan pahala, maka Allah Ta’ala menetapkan baginya sejuta kebaikan, menghapus daripadanya sejuta kejelekan, mengangkat baginay sejuta derajat, dan Allah membangunkan baginya sebuah rumah disurga dan Allah mengampuni dosa-dosa orang itu seluruhnya.”. (Kitab Lubabul Hadits – Al Imam Al Hafidh Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As Suyuthiy)

8. Iman, islam, hijrah dan berjihad fi sabilillah.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ
حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ

“Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tinggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi. Barangsiapa yang melakukan itu, ia tidak membiarkan satupun kebaikan, dan lari dari semua keburukan, ia meninggal, di mana saja Dia kehendaki untuk meninggal.” (HR. Al Nasai, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

9. Menghindari debat walaupun dalam posisi yang benar.

10. Meninggalkan dusta dalam becanda.

11. Berakhlak mulia.
Dari Abu Umamah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَه

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam posisi yang benar, juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia.”(HR. Abu D awud, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah)


Penulis dan pemberi ijazah : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Saturday, November 17, 2018

Maulid Simtudduror Yang Indah Penuh Pujian Kepada Nabi Muhammad

Maulid Simtudduror Yang Indah Penuh Pujian Kepada Nabi Muhammad

Simtudduror adalah karya Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. Maulid simtudduror ini juga biasa disebut masyarakat dengan sebutan maulid habsyi yang merujuk pada nama pengarangnya. maulid ini memiliki judul asli "Simtudduror fi akhbar Maulid Khairil Basyar min akhlaqi wa aushaafi wa siyar" dan disingkat dengan nama simtudduror.

Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi yang merupakan penyusun maulid ini adalah seorang ulama besar dan waliyullah asal hadraumut, tarim, Yaman. Beliau lahir pada tahun 1259 H / 1839 M dan wafat pada tahun 1333 H / 1913 M.

Silsilah nasab dan garis keturunan beliau bersambung langsung kepada Rasulullah SAW. beliau mengarang maulid ini pada usianya yang ke 68 tahun. berkat karyanya ini Habib Ali Habsyi dijuluki sohibul maulid Simtudduror.

Ketika Habib Ali masih anak-anak terjadi kejadian aneh di Masjid Jami Qosam, pada waktu itu pakaian Habib Ali tertinggal di dalam masjid tersebut lalu Habib Ali bersama ibunya keluar untuk mengambil baju itu, sesampainya di Masjid, Habib Ali masuk sendiri ke dalam Masjid sedangkan ibunya menunggu di luar. Tetapi bajunya tidak ditemukan ditempatnya, tiba-tiba salah satu tiang masjid tersebut terbelah dan dari dalam tiang tersebut keluar seorang pemuda dengan jenggot tebal, berkulit putih berkata : “Wahai Ali, ambilah pakaianmu ini. Ketika melihatnya tertinggal, aku menyimpannya untukmu”. Kemudian Habib Ali segera mengambilnya.
Pada usia 17 tahun pergi ke Mekah, dimana saat itu ayahnya berada di sana dalam rangka berdakwa, Habib Ali berada disana selama 2 tahun. Kemudian setelah itu beliau kembali ke Seiwun sebagai seorang alim dan ahli dalam pendidikan. Habib Ali pernah melakukan perjalanan ke Pulau Jawa selama 5 bulan pada tahun 1315 H atas perintah ayahnya.

Pada usia 37 tahun Habib Ali membangun Ribath (pondok pesantren) yang pertama di Hadramaut untuk para penuntut ilmu dari dalam dan luar kota. Ribath itu menyeruoai masjid dan terletak di sebelah timur halama Masjid Abdul Malik.

Murid yang tinggal dan menuntut ilmu di ribath tersebut biayanya beliau tanggung sendiri. Menurut Syeikh Salim bin Muhammad Syamaakh, seorang pencinta beliau, Habib Ali menanggung setiap hari selain para tamu adalah 150 orang; 50 orang di ribath, 50 orang di rumah dan 50 orang di Anisah. Adapun jumlah tamu setelah Isya adalah sekitar 15-20 orang. Selain itu Habib Ali juga membangun Masjid yang dinamakan Masjid Riyadh, pada waktu beliau berusia 44 tahun. Masjid berdampingan dengan dan bahkan menjadi satu dengan Ribath. Habib Ali berkata :”Dalam Masjid Riyadh terdapat cahaya, rahasia dan keberkahan Nabi Muhammad SAW.

Kitab maulid simtudduror ini berisi syair syair tentang kisah perjalanan hidup dan pujian kepada Baginda Rasulullah SAW dengan bahasa yang indah dan penuh makna. Adapun khasiat dan manfaat membaca maulid ini sudah tidak diragukan lagi. didalam maulid habsyi ini hanya berisi lafadz dan bacaan yang baik seperti sholawat kepada Nabi, ayat ayat Al-Quran hingga kisah dan riwayat Rasulullah SAW.

Terdapat beberapa bait dan rawi dalam maulid ini dan biasanya setiap satu atau dua rawi akan diselingi dengan pembacaan lantunan qasidah. tak heran jika maulid simtud duror kini sangat populer dan telah dibaca umat islam diseluruh dunia terutama di indonesia dalam berbagai acara majelis taklim terutama saat mengadakan acara bershalawat.

Munculnya Maulid Simtud Duror di zaman ini akan menyempurnakan kekurangan orang-orang yang hidup di zaman akhir. Sebab, pemberian Allah kepada orang-orang terdahulu yang tidak didapatkan oleh orang-orang zaman akhir tidaklah sedikit. Namun setelah maulid ini datang, ia menyempurnakan apa yang telah terlewatkan, dan Nabi SAW sangat menyukai maulid ini.

Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi paman Habib Ali berkata “wahai anakku, perhatikanlah kumpulan orang ini. Pertemuan ini belum pernah dilakukan pada masa-masa dahulu. Dalam maulid ini, aku memiliki sebuah masyhad (pandangan/pemikiran). Dalam perang Tabuk, Nabi SAW dan para sahabat ra. tidak mempunyai cukup perbekalan. Beliau memerintahkan agar setiap orang membawa makanan apapun yang mereka miliki. Ada yang datang membawa sebutir kurma, ada yang membawa 2 butir kurma dan ada pula yang membawa segenggam gandum.
Nabi SAW lalu mengumpulkan makanan tadi, lalu memberkatinya, kemudian beliau memerintahkan agar setiap sahabat mengambil sesukanya. Ada yang mengambil satu ember, ada yang mengambil satu karung penuh. Masing-masing sahabat akhirnya mendapatkan bekal yang banyak berkat do’a Nabi SAW. Begitu pula pertemuan Maulid ini. Setiap orang yang datang memperoleh sir. ada yang sedikit, ada yang banyak. Kemudian Nabi SAW memberkatinya, Seusai Maulid, setiap orang pulang membawa sir yang sangat banyak”.

Wafatnya Habib Ali
Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, penglihatan Habib Ali semakin kabur, dan dua tahun sebelum wafatnya, beliau kehilangan penglihatannya. Menjelang wafatnya, tanda yang pertama kali tampak adalah isthilam. Isthilam ini berlangsung selama 70 hari, hingga kesehatan beliau semakin buruk.

Akhirnya, pada waktu Dhuhur, hari Minggu, 20 Rabiuts Tsani 1333 H, ruh beliau yang suci terbang menuju “Illiyyin. Dan pada waktu Ashar keesokkan harinya, jenasah beliau diantarkan ke kubur dalam suatu iring-iringan yang tidak ada awal dan akhirnya.

Jenasah beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh. Habib Ali meninggalkan 5 orang anak, 4 putra dan 1 putri dari 2 orang wanita, yang pertama seorang wanita Qosam (bernama Abdullah) dan Syarifah Fatimah binti Muhammad Maulakhela (Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khadijah).

Diantara anaknya itu ada yang menetap di Solo, Indonesia, yaitu Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi (ayah dari Habib Anis bin Alwi AlHabsyi) Habib Ali mempunyai banyak murid, diantara adalah anak-anaknya sendiri, adkinya Habib Syeikh bin Muhammad, Sayid Abdullah bi Umar Asy-Syathri, Sayid Jakfar dan Abdul Qodir bin Abdurrahman Asseggaf, Sayid Muhammad bin Hadi bin Hasan Asseggaf, Sayid Muhsin bin Abdullah bin Muhsin Asseggaf, Sayid Abdullah bin Alwi bin Zien AlHabsyi, sayid Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur, Sayid Umar bin Tohir Al-Haddad dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan.

(Sumber Sekilas Tentang Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, karya Habib Novel Muhammad Alaydrus, Penerbit Putera Riyadi).

http://al-mawlidsaw.blogspot.com/2013/01/teks-arab-dan-latin-maulid-simthud-durar.html



Wednesday, November 14, 2018

Hukum Memberi Tulisan Dibatu Nisan Kuburan

Hukum Memberi Tulisan Dibatu Nisan Kuburan

Memberi tanda pengenal atas kuburan dengan memasang batu nisan, patok, dan penanda lain merupakan kebiasan umat Islam hingga sekarang. Hal tersebut merupakan sebuah anjuran syariat, sebagaimana penjelasan imam Khotib as-Syirbini:

وَأَنْ يَضَعَ عِنْدَ رَأْسِهِ حَجَرًا أَوْ خَشَبَةً أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ عِنْدَ رَأْسِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ صَخْرَةً وَقَالَ : أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي
.
“Hendaklah meletakan batu, kayu, atau benda serupa di atas makam pada bagian kepala jenazah. Karena Rasulullah SAW meletakkan batu besar di atas makam bagian kepala Utsman bin Mazh‘un. Rasulullah SAW bersabda ketika itu, ‘Dengan batu ini, aku menandai makam saudaraku agar di kemudian hari aku dapat memakamkan keluargaku yang lain di dekat makam ini,’” (Al-Iqna, II/571)

Selain bagian kepala, sebagian wilayah juga memasang batu nisan di bagian kaki. Menjawab permasalahan tersebut, Al-Bujairimi menjawab demikian:

لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي) قَضِيَّتُهُ نَدْبُ عِظَمِ الْحَجَرِ وَمِثْلُهُ نَحْوُهُ، وَوَجْهُهُ ظَاهِرٌ فَإِنَّ الْقَصْدَ بِذَلِكَ مَعْرِفَةُ قَبْرِ الْمَيِّتِ عَلَى الدَّوَامِ، وَلَا يَثْبُتُ كَذَلِكَ إلَّا الْعَظِيمُ؛ وَذَكَرَ الْمَاوَرْدِيُّ اسْتِحْبَابَهُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ،
.
“Agar di kemudian hari aku dapat memakamkan keluargaku yang lain di dekat makam ini. Penjelasannya adalah anjuran peletakan batu besar atau benda serupa itu. Masalah ini sudah jelas. Tujuan peletakan batu itu adalah penanda makam secara permanen di mana hal itu tidak dapat terwujud kecuali dengan batu besar. Imam Al-Mawardi menyebutkan anjuran peletakan batu di atas makam pada bagian kedua kaki jenazah.” (Hasyiyah al-Bujairomi ‘Ala al-Khotib, II/571)

Adapun menulis nama jenazah di batu nisan masih dipertentangkan oleh para Ulama. Namun Madzhab Syafii berpendapat boleh akan tetapi makruh. Kecuali kuburan orang Alim atau orang Salih, maka sunah menulis namanya dan sesuatu lain yang dapat membedakan dengan kuburan lain. (Al-Fiqh ‘Ala Madzhahib al-Arba’ah, IV/414) []waAllahu a’lam

From @bahtsul_masail
Follow @ulama.nusantara
Kunjungi www.ulamanusantara.com


Mempercayai Kekuatan Jimat

Pada dasarnya, kepercayaan seseorang mengenai jimat berbeda-beda. Sehingga hukumnya pun berbeda sesuai dengan kepercayaannya.

Syekh Ibrahim al-Bajuri pernah berkata:
.
ﻓﻤﻦ ﺍﻋﺘﻘﺪ ﺃﻥ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻌﺎﺩﻳﺔ ﻛﺎﻟﻨﺎﺭ ﻭﺍﻟﺴﻜﻴﻦ ﻭﺍﻷﻛﻞ ﻭﺍﻟﺸﺮﺏ ﺗﺆﺛﺮ ﻓﻰ ﻣﺴﺒﺒﺎﺗﻬﺎ ﺍﻟﺤﺮﻕ ﻭﺍﻟﻘﻄﻊ ﻭﺍﻟﺸﺒﻊ ﻭﺍﻟﺮﻯ ﺑﻄﺒﻌﻬﺎ ﻭﺫﺍﺗﻬﺎ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺎﻹﺟﻤﺎﻉ ﺃﻭ ﺑﻘﻮﺓ ﺧﻠﻘﻬﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﻔﻰ ﻛﻔﺮﻩ ﻗﻮﻻﻥ ﻭﺍﻷﺻﺢ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﻜﺎﻓﺮ ﺑﻞ ﻓﺎﺳﻖ ﻣﺒﺘﺪﻉ ... ﻭﻣﻦ ﺍﻋﺘﻘﺪ ﺍﻟﻤﺆﺛﺮ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻜﻦ ﺟﻌﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﻭﻣﺴﺒﺒﺎﺗﻬﺎ تلازما ﻋﻘﻠﻴﺎ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﺼﺢ ﺗﺨﻠﻔﻬﺎ ﻓﻬﻮ ﺟﺎﻫﻞ .. ﻭﻣﻦ ﺍﻋﺘﻘﺪ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺆﺛﺮ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺟﻌﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﻭﺍﻟﻤﺴﺒﺒﺎﺕ ﺗﻼﺯﻣﺎ ﻋﺎﺩﻱ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺼﺢ ﺗﺨﻠﻔﻬﺎ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺟﻰ ﺇﻥ ﺷﺎء ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻫـ
.
“Siapa pun yang beriktikad bahwa sebab-sebab yang bersifat adat seperti api, pisau, makanan, minuman memberikan dampak yang dihasilkan berupa terbakar, terpotong, kenyang dan segar atas dasar watak dan zat benda-benda tersebut, maka dia dihukumi kafir menurut kesepakatan para ulama.
Atau ia beriktikad bahwa yang memberikan dampak adalah kekuatan yang diciptakan Allah pada benda tersebut, maka dalam menghukumi kekufurannya terdapat dua pendapat. Menurut pendapat yang lebih sahih, ia tidak kafir namun dihukumi fasik dan pelaku bid’ah...
Dan siapa pun yang meyakini bahwa yang memberikan dampak adalah Allah, namun Allah mengikatkan antara sabab dan akibat dengan ikatan yang masih dalam jangkauan akal sekiranya tidak mungkin untuk beralih dari akibat tersebut, maka dia tergolong orang bodoh...
Dan siapa pun yang berkeyakinan bahwa yang memberikan dampak adalah Allah, dan Allah mengikatkan antara sabab dan akibat dengan sebuah ikatan yang berlaku secara normal sekiranya masih ada kemungkinan sebab tersebut untuk tidak menghasilkan akibat, maka dia adalah Mukmin yang selamat, Insya Allah.” (Tuhfah al-Murid, hal. 58)

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Manawi berpendapat:

ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻧﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺒﺮﻙ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﺇﻻ ﺗﻮﺳﻼ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﻤﺘﺒﺮﻙ ﺑﻪ ﺳﻮﺍء ﺃﻛﺎﻥ ﺃﺛﺮﺍ ﺃﻭ
ﻣﻜﺎﻧﺎ ﺃﻭ ﺷﺤﺼﺎ .

“Hendaklah kita tau bahwa Tabarruk tiada lain hanyalah perantara pada Allah dengan menggunakan benda objek tabarruk. Baik berupa suatu benda, tempat, atau seseorang.”
(Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 249)
[]waAllahu a’lam
.
From @bahtsul_masail
Follow @ulama.nusantara
Kunjungi www.ulamanusantara.com
.
#ulamanusantara


Doa saat Menghadapi Musuh

Doa saat Menghadapi Musuh

Secara nurani, setiap manusia tak ingin memiliki musuh dan sama sekali tak dianjurkan mencari-carinya. Hanya saja, watak hidup yang dinamis membuat kita nyaris tak bisa menghindar dari musuh, atau setidaknya dimusuhi. Kala berhadapan dengan musuh, terutama yang agresif dan membahayakan diri kita, seseorang dianjurkan untuk membela diri.
.
Rasulullah mengajarkan, ketika kita sendang menghadapi musuh untuk membaca:

يَا مَالِكَ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيَّاكَ أعْبُدُ وَإيَّاكَ أَسْتَعِينُ

Iyyâka a‘budu wa iyyâka asta‘înu yâ mâlika yaumiddîn

Artinya, “Hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan, wahai penguasa hari pembalasan.”

Hadits tersebut diriwayatkan dari Anas yang bersaksi bahwa Nabi membaca doa itu saat bertemu musuh dalam sebuah peperangan. Kemudian ia melihat orang-orang bergulat dan malaikat-malaikat turut terlibat di dalamnya. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)
.
(Mahbib)


DOA TETAP TEGAR SAAT USAHA GAGAL

DOA TETAP TEGAR SAAT USAHA GAGAL

Manusia hanya bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Ungkapan ini senapas dengan ajaran Islam yang di satu sisi manusia diimbau untuk senantiasa berusaha dalam meraih cita-cita. Tapi di sisi lain diperintahkan pula untuk berpasrah diri kepada Allah soal hasil dari usaha tersebut. Sikap ini merupakan sebuah kesimbangan (tawazun) yang menjauhkan seorang hamba dari perilaku terlalu mengandalkan dirinya sendiri lalu melupakan campur tangan Tuhan di dalamnya.
.
Rasulullah SAW bersabda:
.
اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ. وَفِي روَايَةٍ ِبالْفِعْل الْمَاضِي َقالَ : قدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ َفعَلَ
.
Artinya, "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah, dan keduanya mengandung kebaikan. Berupayalah maksimal untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah merasa tak berdaya. Apabila engkau tertimpa musibah, jangan katakan ‘Seandainya aku berbuat begini, tentu akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki’, karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan setan," (HR Muslim).
.
Hadits di atas menyiratkan pesan tentang pentingnya bersikap tegar, optimistis, tidak berpikir mundur, dan tidak cengeng, dengan mengembalikan urusan kepada Allah. Ketika seseorang mengalami kegagalan atau peristiwa yang tidak seperti yang didambakan, sepatutnya mengucapkan:

قدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ َفعَلَ
.
Qaddarallâhû wa mâ syâ-a fa‘ala

Artinya, "Allah telah menentukan takdirnya dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki."

(Mahbib)

DOA WIRID AGAR MAKANAN TIDAK MEMBAHAYAKAN TUBUH

"DOA WIRID AGAR MAKANAN TIDAK MEMBAHAYAKAN TUBUH"

 Didalam kitab "Kaifa Takunu Ghaniyyan" Hal ; 36 dijelaskan, bahwasannya Al-Habib Sa'ad Muhammad Bin Alawi Al-Aydrus ra. berkata   :

سورة (قريش) من قرأها زال همه وحزنه ووسوسته

ومن قرأها على مطعوم أذهب الله مضرته

Barang siapa yang membaca Surat Quraisy, maka akan hilang kesusahan dan rasa was was-nya.

Barang siapa yang membacanya pada makanan maka Allah SWT akan menghilangkan mudharat nya (pada tubuh).

Catatan  :

Seringkali kita dihantui rasa cemas dan takut setiap ada orang yang menghidangkan makanan pada kita.

Mau minum kopi khawatir maag kumat.
Mau makan gulai kambing khawatir darah tinggi kambuh.
Mau minum yang manis-manis khawatir kencing manis.
Mau minum yang pahit-pahit takut nyerang ke liver.

* بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
ِ
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ * إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ * فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ * الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ)

(كتاب كيف تكون غنيا ، ص ٣٦)
   

Semoga Bermanfaat bagi kita semunya aamiin aamiin aamiin ya rabbal 'aalamiin bisirri Asrari Al Faatihah....

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد....

Habib Hud Alatas


Doa Orang Yang Terdesak Kepepet

DOA ORANG YG TERDESAK

(أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ)

[Surat An-Naml 62]

am may yujībul-muḍṭarra iżā da'āhu wa yaksyifus-sū`a wa yaj'alukum khulafā`al-arḍ, a ilāhum ma'allāh, qalīlam mā tażakkarụn

Bukankah Dia yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan. dan menjadikan kamu sebagai pemimpin di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat) yang kamu ingat.

Pada umumnya manusia serius berdoa pada saat genting saja. bila keadaan tdk terdesak ia merasa aman dan berdoa semaunya saja (tdk serius).

Berbeda halnya dgn para wali (kekasih Allah) yg senantiasa memposisikan dirinya dlm keadaan darurat, shg ketika berdoa selalu dlm keadaan serius dan sangat membutuhkan (faqir)


Kisah Air Minum Asin Yang Diteguk Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah Air Minum Asin Yang Diteguk Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang suami yang sangat meninggikan kedudukan para istrinya dan amat menghormati mereka.

Namun, ketika berselisih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melibatkan emosi. Ketika sedang marah kepada Aisyah, Beliau berkata, “Tutuplah matamu!”

Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”

Tidak pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan dalam rumah tangga Rasulullah. Bahkan, beliau biasa memijit hidung Aisyah jika dia marah, sambil berkata,

“Wahai Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’,” (HR Ibnu Sunni).

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perjalanan jihad fisabilillah diiringi para sahabat. Sementara itu di pintu gerbang kota Madinah Aisyah r.a menunggu dengan rasa rindu.

Akhirnya Rosulullah shallallahu'alaihi wa sallam tiba di kota Madinah. Aisyah r.a bahagia menyambut suami tercinta. Tiba dirumah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam beristirahat melepas lelah.

Aisyah dibelakang rumah sibuk membuat minuman untuk Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Lalu minuman itupun di suguhkan kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.

Beliau meminumnya perlahan hingga hampir menghabiskan minuman tersebut, tiba-tiba Aisyah berkata: "yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu? "

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam diam dan hendak melanjutkan meminum habis air digelas itu. Dan Aisyah bertanya lagi, "Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?"

Akhirnya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam memberikan sebagian air yang tersisa digelas itu, Aisyah r.a meminum air itu dan ia langsung kaget terus memuntahkan air itu.

Ternyata air itu terasa asin bukan manis. Mungkin saking tergesa-gesanya Aisyah baru tersadar bahwa minuman yang ia buat salah memasukan campuran, yang harusnya sari gula malah masukin sari garam. Kemudian Aisyah r.a langsung meminta maaf kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lelaki yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya," (HR tirmidzi dan Ibnu Hibban). Dari abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: "saling berpesanlah kalian untuk memperlakukan wanita dengan Baik,

karena sesungguhnya wanita itu. Diciptakan dari Tulang Rusuk, dan sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian atasnya,

Jika engkau bersikeras untuk meluruskannya, Niscaya engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau biarkan, ia akan tetap bengkok, karenanya saling berpesanlah (saling menasihati) berkenan dengan Wanita" (HR. Bukhari dan Muslim)


Cara Menghadirkan wali ketika mengajar

Cara Menghadirkan wali ketika mengajar

Al Gutb Habib Ahmad bin Hasan al-Attas berkata:
Barangsiapa yang ingin membahas sesuatu, atau ingin mengajar seseorang, hendaklah ia mengahadirkan "Ahli Dark" (Para wali yang segera datang kepada orang yang meminta tolong kepadanya) dan "ahli Bathin" seraya mengucapkan :

دُسْتُرَكُمْ يَا أَهْلَ الدَّرْكِ وَيَا أَهْلَ الْبَاطِنِ وَيَا أَهْلَ النّّوْبَةِ وَيَا أَهْلَ النُّوْرِ

“Atas izinmu wahai Ahli Dark, wahai ahli bathin, wahai para wakil Allah, wahai ahli an-Nur (para pemberi petunjuk).”

Niscaya dengan izin Allah SWT mereka akan membantu dan menolongnya (yakni dengan keberkahan dan madad mereka)

NB : hampir semua wali memiliki Maqam Dark

Namun yang di kenal dan masyhur sebagai Shohibud Dark di tarim yaitu :
1. Imam Ali Kholi’ Qosam
2. Imam Ali Shohibud Dark bin Alwi al-Ghuyur
3. Imam Umar Muhdhor bin Abdur Rohman as-Seggaf

‎يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق

Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh aamin....


Sahabat Berambut Panjang Didahinya

Sahabat Berambut Panjang Didahinya

Rambut bagian depan Abû Mahdzûrah sangat panjang.  Jika beliau duduk dan menguraikan rambutnya, maka rambutnya tersebut menyentuh lantai.  Teman-temannya memberikan saran agar ia mencukur bagian depan rambutnya itu.  Tetapi beliau selalu menolak dan berkata:

"Rambutku ini pernah disentuh oleh Rasulullah SAW dengan tangannya.  Oleh karena itu, sampai mati pun aku tidak akan mencukurnya."

Dan pada kenyataannya, sampai akhir hayatnya, beliau tidak mencukur rambutnya itu. 

Saudaraku, lihatlah, demi mempertahankan keberkahan sentuhan Nabi Muhammad SAW, seorang sahabat tidak rela mencukur rambutnya.  Beliau berbangga dengan keberkahan tersebut dan menjaganya dengan sepenuh hati.

(Lihat Muhammad bin 'Abdullâh Abû 'Abdillâh Al-Hâkim An-Naisâbûrî, Al-Mustadrak 'Alas Shahihain, Dârul kutubil 'ilmiyyah, Beirut, cet.1, 1990, juz. Ke-3, hal.589.)


Ijazah Imam Al Haddad; Diantara Penyebab Husnul Khotimah

Ijazah Imam Al Haddad; Diantara Penyebab Husnul Khotimah

Al Imam Al Quthb Abdullah bin ‘Alwi Al Hadad berkata,
“Diantara yang menjadikan seseorang meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah adalah, setiap selesai mengerjakan sholat Maghrib ia mengucap
kan,

ﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﻲ ﺍﻟﻘﻴﻮﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻤﻮﺕ ﻭ ﺍﺗﻮﺏ ﺍﻟﻴﻪ ﺭﺏ ﺍﻏﻔﺮﻟﻲ

Astagfirulloohalladzii laa ilaa-ha illaa huwal Hayyul Qoyyuum alladzii laa yamuut wa atuubu ilaih, robbighfirlii.

Kemudian dilanjutkan dengan membaca sholawat Husnul Khotimah berikut ini,

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻌﺪﺩ ﻛﻞ ﺣﺮﻑ ﺟﺮﻯ ﺑﻪ ﺍﻟﻘﻠﻢ

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad in wa ‘ala aaliihi washohbihi wasallim bi’adadi kulli harfin jaro bihil qolam

Artinya: Yaa Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya sebanyak bilangan huruf yang digariskan oleh qolam.

Barangsiapa membaca semua itu (setelah sholat Maghrib), sebelum mengucapkan yang lain, niscaya ia akan meninggal dalam keadaan beriman.” Insyaa Allah. Wallahu A’lam.

Sumber:

As Sayyid Al Habib Al ‘Alim Al Faqih Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Al Masyhur Ba’alawi, dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba’dhil A’immati minal ‘Ulama’ Al Muta-akhkhirin.


Saturday, November 10, 2018

Kejadian Unik Saat Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW

Saat kelahiran Nabi Muhammad SAW lahir terjadi beberapa kejadian aneh dan unik.



Lafal Paling Sering Dibaca Rasulullah SAW Mendekati Wafat

Lafal Paling Sering Dibaca Rasulullah SAW Mendekati Wafat

Rasulullah SAW tidak pernah putus berdoa dan berharap kepada Allah SWT. Beliau banyak mengajarkan lafal doa baik umum maupun khusus kepada para sahabat dan keluarganya. Tetapi jelang wafatnya Rasulullah SAW menyibukan diri dengan tasbih dan istighfar. Berikut ini lafal yang paling sering dibaca Rasulullah SAW.
.
سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Subhanâka wa bihamdik. Astaghfiruka wa atûbu ilaik.

Artinya, “Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku mohon ampunan-Mu. Aku bertobat kepada-Mu.”


Siti Aisyah RA pernah menanyakan perihal tingginya intensitas tasbih dan istighfar Rasulullah SAW. Dialog keduanya terekam dalam riwayat berikut ini.
..
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ: «سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ» قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، مَا هَذِهِ الْكَلِمَاتُ الَّتِي أَرَاكَ أَحْدَثْتَهَا تَقُولُهَا؟ قَالَ: «جُعِلَتْ لِي عَلَامَةٌ فِي أُمَّتِي إِذَا رَأَيْتُهَا قُلْتُهَا» {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ} [النصر: 1] إِلَى آخِرِ السُّورَةِ
.
Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW sebelum wafat memperbanyak baca ‘Subhanâka wa bihamdik. Astaghfiruka wa atûbu ilaik (Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku mohon ampunan-Mu. Aku bertobat kepada-Mu).’ Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa arti kalimat ini, sebelumnya aku belum pernah mendapatimu melakukannya?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Aku sudah diberi tanda di tengah umatku. Kalau sudah tanda itu tampak, aku membacanya.’ Tanda yang dimaksud Rasulullah SAW adalah turunnya surat An-Nashr,” (Lihat Imam An-Nawawi, Riyadlus Shalihin).


Dengan tasbih dan istighfar ini semoga Allah SWT memberikan banyak kebaikan bagi kita semuanya. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Thursday, November 8, 2018

Detik Detik Saat Nabi Muhammad SAW Akan Lahir



Detik-detik Kelahiran Nabi Muhammad ..

Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Robi'ul-Awwal) saat hari-hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ sudah semakin dekat, Alloh ﷻ semakin melimpahkan bermacam anugerah-Nya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Robiul-Awwal malam kelahiran Al-Musthofa Muhammad ﷺ ..

Pada Malam Pertama (ke 1) :

Alloh ﷻ melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya ..

Pada malam ke 2 :

Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad ﷺ yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Alloh ﷻ ..

Pada malam ke 3 :

Datang seruan memanggil :
“Wahai Aminah … sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rosululloh ﷺ yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Alloh ﷻ .. ”

Pada malam ke 4 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas ..

Pada malam ke 5 :

Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Alloh Ibrohim Alaihi Salam ..

Pada malam ke 6 :

Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad ﷺ memenuhi alam semesta ..

Pada malam ke 7 :

Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak ..

Pada malam ke 8 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan :
“Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi agung, Kekasih Alloh ﷻ Pencipta Alam Semesta .. ”

Pada malam ke 9 :

Alloh ﷻ semakin mencurahkan rohmat kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sakit, sedih, susah, dalam jiwa Sayyidah Aminah ..

Pada malam ke 10 :

Sayyidah Aminah melihat tanah Tho’if dan Mina ikut bergembira menyambut akan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ
..

Pada malam ke 11 :

Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad ﷺ ..

Malam detik-detik kelahiran Nabi Muhammad ﷺ tepat tanggal 12 Robi’ul-Awwal di sepertiga malam. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Saat itu Sayyid Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad ﷺ ) sedang bermunajat kepada Alloh ﷻ di sekitar Ka’bah. Sedangkan Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorang pun yang menemaninya ..

Tiba-tiba Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang sangat masing² sangat jelita, anggun dan cantik, diliputi dengan cahaya kemilau yang memancar serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan ..

Wanita pertama datang berkata :
”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung, junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi Muhammad ﷺ . Kenalilah aku, bahwa aku adalah istri Nabi Alloh Adam Alaihi Salam , ibunda seluruh ummat manusia, aku diperintahakan Alloh ﷻ untuk menemanimu ..”

Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira :
“Aku adalah istri Nabi Alloh Ibrohim Alaihi Salam yang diperintahkan Alloh ﷻ untuk menemanimu ..”

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga :
”Aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Alloh ﷻ untuk menemanimu ..”

Datanglah wanita ke empat :
”Aku adalah Maryam, ibunda Isa Alaihi Salam datang unetuk menyambut kehadiran putramu Muhammad Rosululloh ..”

Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad ﷺ yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata ..

Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangannya dan mereka memanjatkan puji-pujian kepada Alloh ﷻ dengan berbagai macam bahasa yang berbeda ..

Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa beterbangan yang sangat indah berkilau cahayanya
..

Detik berikutnya Alloh ﷻ memerintahkan kepada Malaikat Ridhwan agar mengomandokan seluruh bidadari sorga agar berdandan cantik dan rapi, memakai kain sutra dan segala macam bentuk perhiasan dengan bermahkotan emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian sorga yang harum semerbak ke segala penjuru, lalu beribu ribu bidadari² itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridhwan, terlihat wajah bidadari² itu gembira ..

Lalu Alloh swt memanggil :
“Yaa Jibril … serukanlah kepada seluruh arwah para Nabi, para Rosul, para wali agar berkumpul, berbaris rapi, bahwa sesungguhnya Kekasih-Ku cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka mnyambut kedatangan Nabi Muhammad ﷺ ..

Yaa Jibril … perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridhwan untuk membuka pintu-pintu sorga dan bersoleklah engkau dengan sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasih-Ku Nabi Muhammad ﷺ ..

Yaa Jibril… bawalah beribu ribu malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah Kekasih-Ku Muhammad ﷺ telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman ..”

Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan beribu ribu malaikat. Sayyidah Aminah melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya. Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih yang berkilau cahayanya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Nabi Muhammad Rosululloh ﷺ dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad ﷺ bersujud kepada Alloh ﷻ seraya mengucapkan :
“Allohu Akbar ... Allkhu Akbar ... Wal-Hamdulillahi katsiro, wasubhanallohi bukrotan wa ashila...”

Kegembiraan memancar dari setiap sudut alam raya, gemuruh sholawat memenuhi semesta dengan bahasa yang berbeda beda dan dengan cara yang bermacam macam pula ..

“Yaa Nabi Salam Alaika … Yaa Rosul Salam Alaika … Yaa Habib Salam Alaika … Sholawatulloh Alaika ... ”

(Diriwayatkan dari Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-syafi’i. Dalam kitabnya “Anni’matul-Kubro ’alal-alam).

Madras Ribath

SEKELUMIT FISIK NABI TERMULIA HABIBINA MUHAMMAD SAW

SEKELUMIT FISIK NABI TERMULIA HABIBINA MUHAMMAD SAW

_ABU HASAN-313_

```Diriwayatkan dari Sayyidina Ali RA bahwa saat mengungkapkan tentang Rasulullah SAW, ia mengatakan,

"Rasulullah SAW tidak tinggi jangkung tidak pula terlalu pendek, beliau berperawakan sedang, rambut beliau tidak keriting padat tidak pula lurus, beliau berambut agak ikal,
beliau tidak berwajah bulat tidak pula berwajah tembem, wajah beliau ada raut melingkar, putih, kemerah-merahan, kedua mata beliau sangat hitam, bulu mata beliau panjang,

bagian atas bahu beliau besar, bersih, mempunyai bulu halus dada, kedua telapak tangan dan kaki beliau tebal, jika berjalan maka beliau tampak kokoh seakan-akan beliau sedang berjalan dari atas (tegap), dan jika menoleh maka beliau menoleh sepenuhnya,

di antara kedua bahu beliau terdapat tanda Khatam Kenabian (nabi penutup) dan beliau memang sebagai penutup para nabi, sosok yang paling berlapang dada, paling benar ucapannya, paling lembut perilakunya, paling mulia pergaulannya, siapa yang melihat beliau secara tiba-tiba maka ia segan kepada beliau, siapa yang berbaur dengan beliau dengan pengenalan maka ia mencintai beliau, aku belum pernah melihat sebelum tidak pula setelahnya yang serupa dengan beliau.```

Abu Hurairah RA, ia berkata, "Aku belum pernah melihat sesuatu pun yang lebih bagus dari Rasulullah, seolah-olah matahari bergulir di wajah beliau."

*Ya Rabb jangan haramkan kami untuk melihat keindahan wajahnya dan kelembutan tutur kata kekasih-Mu Muhammad SAW.*

```Hari jumat diawal bulan Rabi' yuk perb

Soal Rebo Wekasan dan Bencana di Bulan Safar

Majelis Nuurus Sa’aadah.

PERTANYAAN.
Apa itu Rabu Wekasan dan bagaimana hukumnya?


JAWABAN.

Rabu Wekasan (Jawa: Rebo Wekasan) adalah tradisi ritual yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, guna memohon perlindungan kepada Allah Swt dari berbagai macam malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dll.

Bentuk ritual Rebo Wekasan meliputi empat hal; (1) shalat tolak bala’; (2) berdoa dengan doa-doa khusus; (3) minum air jimat; dan (4) selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.

Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi). Anjuran serupa juga terdapat pada kitab: ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa salah seorang Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti orang lain) mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada Rabu terakhir Bulan Shafar, Allah Swt menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala’ dalam satu malam. Oleh karena itu, beliau menyarankan Umat Islam untuk shalat dan berdoa memohon agar dihindarkan dari bala’ tsb. Tata-caranya adalah shalat 4 Rakaat. Setiap rakaat membaca surat al Fatihah dan Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan An-Nas 1 kali. Kemudian setelah salam membaca doa khusus yang dibaca sebanyak 3 kali. Waktunya dilakukan pada pagi hari (waktu Dhuha).

PANDANGAN ISLAM.

Untuk menyikapi masalah ini, kita perlu meninjau dari berbagai sudut pandang.

Pertama, rekomendasi sebagian ulama sufi (waliyullah) tersebut didasari pada ilham. Ilham adalah bisikan hati yang datangnya dari Allah (semacam “inspirasi” bagi masyarakat umum). Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh, ilham tidak dapat menjadi dasar hukum. Ilham tidak bisa melahirkan hukum wajib, sunnah, makruh, mubah, atau haram.

Kedua, ilham yang diterima para ulama tersebut tidak dalam rangka menghukumi melainkan hanya informasi dari “alam ghaib”. Jadi, anjuran beliau-beliau tidak mengikat karena tidak berkaitan dengan hukum Syariat.

Ketiga, ilham yang diterima seorang wali tidak boleh diamalkan oleh orang lain (apalagi orang awam) sebelum dicocokkan dengan al-Qur’an dan Hadits. Jika sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits, maka ilham tersebut dapat dipastikan kebenarannya. Jika bertentangan, maka ilham tersebut harus ditinggalkan.

Memang ada hadits dla’if yang menerangkan tentang Rabu terakhir di Bulan Shafar, yaitu:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي..

“Dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda: “Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya naas yang terus-menerus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam at-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi. (dikutip dari Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi li-‘Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).

Selain dla’if, hadits ini juga tidak berkaitan dengan hukum (wajib, halal, haram, dll), melainkan hanya bersifat peringatan (at-targhib wat-tarhib).

HUKUM MEYAKINI.

Hukum meyakini datangnya malapetaka di akhir Bulan Shafar, sudah dijelaskan oleh hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم.

“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadits ini merupakan respon Nabi Saw terhadap tradisi yang brekembang di masa Jahiliyah. Ibnu Rajab menulis: “Maksud hadits di atas, orang-orang Jahiliyah meyakini datangnya sial pada bulan Shafar. Maka Nabi SAW membatalkan hal tersebut. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya. Barangkali pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan Shafar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu. Meyakini datangnya sial pada bulan Shafar termasuk jenis thiyarah (meyakini pertanda buruk) yang dilarang.” (Lathaif al-Ma’arif, hal. 148).

Hadis ini secara implisit juga menegaskan bahwa Bulan Shafar sama seperti bulan-bulan lainnya. Bulan tidak memiliki kehendak sendiri. Ia berjalan sesuai dengan kehendak Allah Swt.

Muktamar NU ke-3 juga pernah menjawab tentang hukum berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada tiap-tiap bulan. Para Muktamirin mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah sbb: “Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti, bukan untuk ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya, semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Pencipta. Apa yang dikutip tentang hari-hari naas dari sahabat Ali kw. adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu” (Ahkamul Fuqaha’, 2010: 54).

HUKUM SHALAT.

Shalat Rebo Wekasan (sebagaimana anjuran sebagian ulama di atas), jika niatnya adalah shalat Rebo Wekasan secara khusus, maka hukumnya tidak boleh, karena Syariat Islam tidak pernah mengenal shalat bernama “Rebo Wekasan”. Tapi jika niatnya adalah shalat sunnah mutlaq atau shalat hajat, maka hukumnya boleh-boleh saja. Shalat sunnah mutlaq adalah shalat yang tidak dibatasi waktu, tidak dibatasi sebab, dan bilangannya tidak terbatas. Shalat hajat adalah shalat yang dilaksanakan saat kita memiliki keinginan (hajat) tertentu, termasuk hajat li daf’il makhuf (menolak hal-hal yang dikhawatirkan).

Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali Qudus (imam masjidil haram) dalam kitab Kanzun Najah Was Surur halaman 33 menulis: “Syeikh Zainuddin murid Imam Ibnu Hajar Al-Makki berkata dalam kitab “Irsyadul Ibad”, demikian juga para ulama madzhab lain, mengatakan: Termasuk bid’ah tercela yang pelakunya dianggap berdosa dan penguasa wajib melarang pelakunya, yaitu Shalat Ragha’ib 12 rakaat yang dilaksanakan antara Maghrib dan Isya’ pada malam Jum’at pertama bulan Rajab…….. Kami (Syeikh Abdul Hamid) berpendapat : Sama dengan shalat tersebut (termasuk bid’ah tercela) yaitu Shalat Bulan Shafar. Seseorang yang akan shalat pada salah satu waktu tersebut, berniatlah melakukan shalat sunnat mutlaq secara sendiri-sendiri tanpa ada ketentuan bilangan, yakni tidak terkait dengan waktu, sebab, atau hitungan rakaat.”

Keputusan musyawarah NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang juga menegaskan bahwa shalat khusus Rebo Wekasan hukumnya haram, kecuali jika diniati shalat sunnah muthlaqah atau niat shalat hajat. Kemudian Muktamar NU ke-25 di Surabaya (Tanggal 20-25 Desember 1971 M) juga melarang shalat yang tidak ada dasar hukumnya, kecuali diniati shalat mutlaq. (Referensi: Tuhfah al-Muhtaj Juz VII, Hal 317).

HUKUM BERDOA.

Berdoa untuk menolak-balak (malapetaka) pada hari Rabu Wekasan hukumnya boleh, tapi harus diniati berdoa memohon perlindungan dari malapetaka secara umum (tidak hanya malapetaka Rabu Wekasan saja). Al-Hafidz Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali menyatakan: “Meneliti sebab-sebab bencana seperti melihat perbintangan dan semacamnya merupakan thiyarah yang terlarang. Karena orang-orang yang meneliti biasanya tidak menyibukkan diri dengan amal-amal baik sebagai penolak balak, melainkan justru memerintahkan agar tidak keluar rumah dan tidak bekerja. Padahal itu jelas tidak mencegah terjadinya keputusan dan ketentuan Allah. Ada lagi yang menyibukkan diri dengan perbuatan maksiat, padahal itu dapat mendorong terjadinya malapetaka. Syari’at mengajarkan agar (k

Majelis Nuurus Sa'aadah, [07.11.18 10:43]
ita) tidak perlu meneliti melainkan menyibukkan diri dengan amal-amal yang dapat menolak balak, seperti berdoa, berzikir, bersedekah, dan bertawakal kepada Allah Swt serta beriman pada qadla’ dan qadar-Nya.” (Ibn Rajab, Lathaif al-Ma’arif, hal. 143).

HUKUM MENYEBARKAN.

Hadratus Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah menjawab pertanyaan tentang Rebo Wekasan dan beliau menyatakan bahwa semua itu tidak ada dasarnya dalam Islam (ghairu masyru’). Umat Islam juga dilarang menyebarkan atau mengajak orang lain untuk mengerjakannya. Berikut naskah lengkap dari beliau:

بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على أمور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

أورا وناع فيتوا أجاء – أجاء لن علاكوني صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت إع سؤال، كرنا صلاة لورو إيكو ماهو دودو صلاة مشروعة في الشرع لن أورا أنا أصلي في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها، كيا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين، التحرير لن سأ فندوكور كيا كتاب النهاية، المهذب لن إحياء علوم الدين. كابيه ماهو أورا أنا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.

ومن المعلوم أنه لو كان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها، والعادة تحيل أن يكون مثل هذه السنة وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين. لن أورا وناع أويه فيتوا أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع كتاب حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدي قال: ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة، لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القاري: لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة والحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة انتهى. لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية: ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت أن نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلاني على البخاري: ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى…. …… إلى أن قال: وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعَةٍ. سكيرا أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة هديه كلوان دليل حديث موضوع، مك أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة ربو وكاسان كلوان داووهي ستعاهي علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سبب إيكي بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم. (هذا جواب الفقير إليه تعالى محمد هاشم أشعري جومباع).

KESIMPULAN

Tradisi Rebo Wekasan memang bukan bagian dari Syariat Islam, akan tetapi merupakan tradisi yang positif karena (1) menganjurkan shalat dan doa; (2) menganjurkan banyak bersedekah; (3) menghormati para wali yang mukasyafah (QS. Yunus : 62). Karena itu, hukum ibadahnya sangat bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. Jika niat dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka hukumnya boleh. Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya), maka hukumya haram.

Bagi yang meyakini silahkan mengerjakan tapi harus sesuai aturan syariat dan tidak perlu mengajak siapapun. Bagi yang tidak meyakini tidak perlu mencela atau mencaci-maki.

Mengenai indikasi adanya kesialan pada akhir bulan Shafar, seperti peristiwa angin topan yang memusnahkan Kaum ‘Aad (QS. Al-Qamar: 18-20), maka itu hanya satu peristiwa saja dan tidak terjadi terus-menerus. Karena banyak peristiwa baik yang juga terjadi pada Rabu terakhir Bulan Shafar, seperti penemuan air Zamzam di Masjidil Haram, penemuan sumber air oleh Sunan Giri di Gresik, dll.

Kemudian, betapa banyak orang yang selamat (tidak tertimpa musibah) pada Hari Rabu terakhir bulan Shafar, meskipun mereka tidak shalat Rebo Wekasan. Sebaliknya, betapa banyak musibah yang justru terjadi pada hari Kamis, Jum’at, Sabtu, dll (selain Rabu Wekasan) dan juga pada bulan-bulan selain Bulan Shafar. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya musibah atau malapetaka adalah urusan Allah, yang tentu saja berkorelasi dengan sebab-sebab yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

Mengenai cuaca ekstrim yang terjadi di bulan ini (Shafar), maka itu adalah siklus tahunan. Itu adalah fenomena alam yang bersifat alamiah (Sunnatullah) dan terjadi setiap tahun selama satu bulanan (bukan hanya terjadi pada Hari Rabu Wekasan saja). Intinya, sebuah hari bernama “Rebo Wekasan” tidak akan mampu membuat bencana apapun tanpa seizin Allah Swt.

Wallahu a’lam.


Instagram : @shulfialaydrus
Penulis ulang : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AMALAN PELUNAS HUTANG

 AMALAN PELUNAS HUTANG... (Amalan Ijazah Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas atau lebih dikenal dengan Habib Ali Bungur) Dalam kitab Al Qirthos...