Friday, March 29, 2019

Tujuh Jenis Amal Jariyah Yang Akan Memberi Pahala Sampai Kiamat Tiba

Tujuh Jenis Amal Jariyah Yang Akan Memberi Pahala Sampai Kiamat Tiba

Berlomba memperbanyak kualitas dan kuantitas amal jariyah yang terus menerus akan mengalir kepada diri kita sampai kita sudah dikubur.


AMAL JARIYAH yg takkan terputus pahalanya sampai kiamat

وعن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا:
سبع يجري للعبد أجرهنّ بعد موته وهو في قبره: من علّم علماً، أو أجرى نهارا، أو حفر بئرا، أو غرس نخلا، أو بنى مسجدا، أو ورّث مصحفا، أو ترك ولدا يستغفر له
المنهج السوي

Dari Sahabat Abu Hurairah Ra
Tujuh amal yang mana pahalanya tetap akan mengalir pada seseorang meskipun ia telah meninggal dunia :

1.Orang yang mengajarkan ilmu,
2.Mengalirkan air sungai,
3.Menggalikan sumur (memberikan sumber air),
4.Menanam pohon kurma,
5.Membangun masjid,
6.Mewariskan mushaf² al-Qur'an, atau...
7.Mereka yang meninggalkan anak Sholeh yang senantiasa mendoakannya.

(Kitab AlManhajus Sawiy)

Belajar Kesabaran Atas Deraan Kesulitan dari Abu Qilabah

Belajar Kesabaran Atas Deraan Kesulitan dari Abu Qilabah

Abu Ibrahim bercerita:
.
Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang…
...
Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
.
Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…
.
Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yg mengurusinya? atau isteri yang menemaninya? ternyata tak ada seorang pun…
.
Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”
.
“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” Tanyaku.
.
“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? Lanjutku.
.
“Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” Jawabnya.
.
“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” Ucapku.
.
“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” Tanyanya.
.
“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu.” Kataku.
.
“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?
.
“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.
.
“Iya benar.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Jawabnya.
.
“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” Katanya.
.
“Banyak juga…” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
.
“Bukankah Allah memberiku lisan yg dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” Tanyanya.
.
“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yg bisu tidak bisa bicara?” Tanyanya.
.
“Sangat banyak.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.”  Jawabnya.
.
“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” Tanyanya.
.
“Iya benar.” Jawabku. Lalu katanya, “Padahal berapa banyak orang yg menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”
.
“Banyak sekali.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
.
Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…
.
Betapa banyak orang sakit selain beliau, yg musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yg lumpuh, ada yg kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yg kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yg menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…
.
pak tua mengatakan:

“Bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?”
.
“Iya.. apa permintaanmu?” Kataku.
.
Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya…”
.
Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…
.
Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…
.
Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.
.
Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yg mengerumuni sesuatu, Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.
.
Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…
.
Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…
.
Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam…
.
Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?
.
Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?
.
Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”
.
Namun kataku, “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”
.
“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.
.
“Lantas siapakah di antara kalian yg lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.
.
“Tentu Ayyub…” jawabnya.
.
“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.
.
Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata, “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.
.
Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yg ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya…
.
Maka kudapati ada tiga orang yg mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…
.
Kukatakan, “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yg mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”
.
“Iya..” Jawab mereka.
.
Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak, “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”
.
Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…
.
Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…
.
Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yang hijau… maka aku bertanya kepadanya:
.
“Hai Abu Qilabah… apa yg menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”
.
Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali
.
Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.
.
Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: ‘Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.

Habib Hud Alatas

Wednesday, March 27, 2019

Gus Baha: Belajar makna Laa ilaha ilallah menurut ahli hakikat

Belajar makna Laa ilaha ilallah menurut ahli hakikat.
Laa ilaha ilallah = tidak ada wujud (dengan makna) hakiki kecuali Allah itu sendiri.


Sunday, March 24, 2019

Gus Baha: Jangan Tenggelam Sedih Karena Dosa, Ingatlah Ampunan Allah Besar

Gus Baha: Jangan Tenggelam Sedih Karena Dosa, Ingatlah Ampunan Allah Besar

Manusia jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan karena dosa. Jangan lupakan bahwa Allah itu maha pengampung dan luas rahmatnya. Allah Maha Pemberi Ampunan melebih semua dosa yang ditanggung manusia.




Rabi’ ah al-Adawiyah: Dia Bershalawat 50.000 Dalam Sehari

Rabi’ ah al-Adawiyah: Dia Bershalawat 50.000 Dalam Sehari

Rabiah Al-Adawiyah dikenal juga dengan nama Rabi'ah Basri adalah seorang sufi wanita yang dikenal karena kesucian dan dan kecintaannya terhadap Allah. Rabi'ah  dari klan Al-Atik suku Qays bin 'Adi, dimana ia terkenal dengan sebutan al-Qaysyah.

Rabi’ah al-Adawiyah adalah sedikit dari ulama sufi perempuan yang sangat disegani dalam sejarah peradaban Islam. Pemikiran dan laku spiritualnya terus dikaji hingga hari ini. Berbagai macam kisah hidupnya pun sudah banyak dikupas dan ditulis dalam banyak buku.

Termasuk soal ajaran cinta (mahabbah). Selain Jalaluddin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi yang mengusung mazhab cinta. Cintanya kepada Allah begitu dalam dan kuat. Sehingga ia tidak mampu mencintai yang lainnya karena cintanya hanya untuk Allah.

Rabi’ah menyembah Allah dengan dasar cinta (hubb), bukan karena takut atau harap (roja’ dan khauf) sebagaimana kebanyakan orang. Karena saking cintanya kepada Allah, Rabi’ah pernah berujar bahwa ia tidak mendambakan surga dan tidak takut kalau dimasukkan neraka.







Saturday, March 23, 2019

Menikmati Saat Sujud: Semua Mayit Doanya Hanya Minta Dihidupkan Sekali Lagi Buat Ibadah

Menikmati Saat Sujud: Semua Mayit Doanya Hanya Minta Dihidupkan Sekali Lagi Buat Ibadah

Semua manusia yang dikuburkan doanya cuma satu, maunya cuma satu yakni minta ke Allah dihidupkan sekali lagi agar bisa beribadah. Mampu shalat lagi itu sebuah berkah Allah yang tiada duanya maka nikmati selagi masih hidup agar besok saat dikuburkan tidak menjerit jerit minta dihidupkan sekali lagi hanya buat shalat ibadah.



Ajarkan Anak Kalian Cara Men Talkin Saat Sakaratul Maut

Keluarga perlu diajarkan cara men talkinkan yang benar saat sakaratul maut. Para orang tua wajib mengajarkan ini agar jika tiba saat kematian maka anak atau anggota keluarga paham harus mengerjakan apa dan bagaimana talkin itu yang baik benar.

Tidak ada gunanya gelar profesor dan kedudukan setiggi apapun ketika anak atau keluarga tidak paham bagaimana men talkinkan saat kematian tiba. Godaan saat sakaratul maut sangat hebat, dia akan digoda akan ingatan atas hutangnya, harta bendanya, anak anaknya, sakit luar biasa, dll, sehingga ybs lupa bahwa kalimat terakhir yang harus diucapkan adalah Laa ilaaha illa Allah.

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga”

------------

Doa agar dipermudahkan Sakaratul Maut

اللهم هون علينا سكرات الموت

"Allahumma hawwin 'alainaa sakaraatil maut".
"Ya Allah, permudahkan kepada kami Sakaratul Maut."

---

Jika ingin yang lebih panjang, seperti di bawah (Do'a Selamat) ;

اللهم انا نسألك سلامة في الدين و عافية في الجسد و زيادة في العلم و بركة في الرزق, وتوبة قبل الموت و رحمة عند الموت و مغفرة بعد الموت اللهم هون علينا سكرات الموت والنجاة من النار والعفو عند الحساب

"Allahumma innaa nas-aluka salaamatan fid-din, wa 'aafiatan fil-jasad, wa ziyaadatan fil-ilmi, wa barakatan fir-rizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan 'indal maut, wa maghfiratan ba'dal maut, Allahumma hawwin 'alainaa sakaraatil-maut, wan-najaata minan-naar, wal'afwa 'indal hisaab."

"Ya Allah, kami mohon keselamatan dalam agama, dan afiat pada badan kami, bertambah ilmu, berkat dalam rezeki, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati (Sakaratul Maut), keampunan selepas mati, Ya Allah permudahkanlah kepada kami Sakaratul Maut, selamat dari api neraka dan keampunan ketika dihisab."

------

Dalam kitab Al-Lum’ah fi Khashaishi Yaumil Jum’ah, Imam Al-Suyuthi (w. 911 H) menyebutkan sebuah riwayat yang dijadikan dasar oleh beliau terkait hukum dan anjuran shalat tahwini sakaratul maut ini. Riwayat dimaksud bersumber dari Ibnu Abbas, dia bekata bahwa Nabi Saw bersabda;

مَنْ صَلَّى بَعْدَ اْلمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فِيْ لَيْلَةِ اْلجُمُعَةِ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ مَرَّةً وَاِذَا زُلْزِلَتْ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ سَكَرَاتِ اْلمَوْتِ وَأَعَاذَهُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَيَسَّرَ لَهُ اْلجَوَازَ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Barangsiapa shalat setelah Maghrib dua rakaat pada malam Jumat dengan membaca surah Alfatihah sekali dan surah idza zulzilat (surah Al-Zalzalah) sebanyak 15 kali dalam setiap rakaat, maka Allah akan meringankan sakaratul maut kepadanya, melindunginya dari siksa kubur dan dimudahkan untuk lewat di atas sirath nanti di hari kiamat.” (HR. Al-Ashbahani).

Melalui hadis ini, shalat tahwini sakaratul maut termasuk shalat sunnah yang dianjurkan dalam Islam. Allah akan memberikan kemudahan menghadapi sakitnya sakaratul maut bagi orang yang melakukan shalat ini. Adapun tata cara shalat ini adalah sebagai berikut;

Pertama, dilaksanakan setelah Maghrib pada malam Jumat dengan niat sebagai berikut;

أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبلَ الْقِبْلَةِ لِلّهِ تَعَالَى
Usholli sunnatan rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala

“Saya shalat sunnah dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala”

Kedua, jumlah rakaatnya sebanyak dua rakaat. Pada rakaat pertama dan kedua membaca surah Al-Fatihah dan surah Al-Zalzalah sebanyak 15 kali.








Gus Baha: Belajar Menjadi Ikhlas

Menjadi manusia yg ikhlas dan berhenti menuntut ini itu.


<

Doa Agar Mata Tetap Sehat Sampai Tua

INGIN MATA KITA TETAP SEHAT SAMPAI TUA,
Ini Amalan yg Diajarkan Abah Guru Sekumpul

Kata abah Zaini sekumpul, ketika pas mendengar adzan

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

sunnat hukumnya mengucup kedua ibu jari sambil membaca :
مَرْحَبًا بِحَبِيْبِيْ وَقُرَّۃِ عَيْنِيْ مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ ﷺ

"Marhaban bihabibi wa qurroti 'aini muhammad ibni 'abdillah shollallahu 'alaihi wasallama."
Kemudian kedua ibu jari diusapkan kedua mata sebanyak 3x/1x.

Fadhilatnya adalah insya Allah mata kita akan selalu terang dan jelas melihat sampai tua dan juga tidak akan sakit mata dan juga tidak akan terkena segala penyakit mata.

Asal mulanya adalah sewaktu Nabi Adam as disurga,dipintu depan surga ada tulisan

لَا اِلٰهَ اِلّاَ اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ

Kata Nabi Adam as wahai Allah,siapa itu Muhammad yang ada tulisan dipintu surga??
Kemudian dijawab Allah,,itu adalah kekasihku.Nuur nya masih berada di sulbi kamu wahai nabi Adam, kata Allah.

Kemudian nabi Adam meminta kepada Allah maukah Engkau perlihatkan kepadaku??
Setelah itu Allah meletakkan Nuur itu didahi nabi Adam.

Kata nabi Adam, hamba masih belum bisa melihat yaa Allah.

Kemudian Allah meletakkan dikedua kuku ibu jari nabi Adam as Nuurnya Muhammad.lalu nabi Adam as melihat Nuurnya Rasulullah saw dikedua kuku ibu jari nabi Adam kemudian beliau kecup kedua ibu jari tadi (kedalam mulutnya, kena ludah) dan langsung mengusapkannya ke kedua mata beliau.

Catatan pengajian dimusholla arRaudhah sekumpuL hari ahad sore ba'da ashar tahun 2002.
Semoga berkat kita cinta kepada abah Zaini sekumpuL dosa2 kita diampuni Allah ta'ala, Aamiin...

KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni
-------------------------------------------------
sumber Ahbab Muhammad

KISAH SYAIKH FARAZDAQ DIPOTONG LIDAHNYA KARENA SUKA MEMUJI RASULULLOH

KISAH SYAIKH FARAZDAQ DIPOTONG LIDAHNYA KARENA SUKA MEMUJI RASULULLOH

"Dahulu di masa seorang Penyair Hebat & sangat terkenal yaitu Syaikh Farazdaq di mana beliau selalu asyik memuji Baginda Rasullulloh. Beliau mempunyai kebiasaan melakukan Ibadah Haji setiap tahunnya.

Suatu waktu ketika beliau melakukan ibadah haji kemudian berziarah ke makam Rasullullohﷺ & membaca Qosidah di makam beliau S.A.W & ketika itu ada seseorang yang mendengarkan Qosidah pujian yan dilantunkanya. Setelah selesai membaca Qosidah orang itu menemui Syaikh Farazdaq & mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya.

Beliau pun menerima ajakan orang tersebut & setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah al- Munawarroh sampailah keduanya di rumah yang di tuju. Sesampainya di dalam rumah, orang tersebut memegangi Syaikh Farazdaq & berkata : " Sungguh aku sangat membenci orang² yang memuji Muhammad & kubawa engkau kesini untuk ku gunting lidahmu !!.

Maka orang itu menarik lidah beliau lalu menguntingnya & berkata : "Ambilah potongan lidahmu ini & pergilah utk kembali memuji Muhammad !!. Maka Syaikh Farazdaq pun menangis karena rasa sakit & juga sedih tidak bisa lagi membaca Syair Kepada Sayyidinna Muhammad, kemudian beliau datang ke Makam Rasullulloh seraya berdoa :

" Ya ALLOH jika penghuni makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang kulantunkan untuknya maka biarkan aku tidak lagi bisa berbicara seumur hidupku , karena aku tidak butuh kepada lidah ini kecuali hanya untuk memuji-Mu & memuji Nabi-Mu. Namun jika Engkau & Nabi-Mu ridho maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula."

Beliau terus menangis hingga tertidur & bermimpi jumpa dengan Rasullulloh dan berkata :
"Aku senang mendengar puji-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu."

Lalu Rasullulloh mengambil potongan lidah itu & mengembalikanya pada posisi semula.

Ketika Syaikh Farazdaq terbangun dari tidurya beliau mendapati lidahnya telah kembali ke semula, maka beliau pun bertambah dahsyat memuji Baginda Rasullulloh.

Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Makam Rasullulloh S.A.W & kembali membaca pujian² untuk Rasulluloh. Dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda & gagah serta berwajah cerah menemui beliau & mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya.

Beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakn tersebut sehingga beliau di bawa ke rumah anak muda itu, beliau mendapati rumah itu adalah rumah yang dulu pernah beliau datangi lalu lidah beliau di potong.

Anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalm rumah itu, beliau mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi & di dalamnya ada kera yg sangat besar & terlihat sangat beringas, maka anak muda itu berkata :

" Engkau lihat kera besar itu yang di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dulu telah mengunting lidahmu, maka keesokan harinya ALLOH merubahnya menjadi se ekor kera. Dan hal seperti inilah terjadi kepada Ummat terdahulu sebagaimana Firman ALLOH :

"Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang. Kami katakan kepada mereka : " Jadilah kalian kera yang hina ". (QS.Al - A'raf ayat :166)

Kemudian anak muda itu berkata :
"Jika ayahku tidak bisa sembuh maka lebih baik ALLOH matikan saja.

Maka Syaikh Farazdaq berdo'a :
"Ya ALLOH aku telah memaafkan orang itu & tidak lagi dendam & rasa benci kepadanya. Dan seketika itu pun ALLOH, mematikan kera itu & mengembalikanya pada wujud yang semula".

Dari kejadian ini jelaslah bahwa sungguh ALLOH mencintai orang² yang suka memuji Nabi Muhammadﷺ. Karena pujian kepada Nabi Muhammad S.A.W, di sebabkan oleh cinta & banyak memuji kepada Nabi Muhammad, berarti pula banyak yang mencintai beliau Saw .
Shollu 'alan Nabi...

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ...
Allahumma Sholli 'alaa Sayyidinna Muhammad wa alaa alihi wa shohbihi wasallim.

Al Madad Ya Rasulallah

Friday, March 22, 2019

Fadilah membaca surah Al Baqarah dan Yasin

Fadilah membaca surah Al Baqarah dan Yasin



Doa kehilangan barang, baik terlupa atau memang hilang .

Doa kehilangan barang, baik terlupa atau memang hilang
.
اَللَّهُمَّ يَا جَامِعَ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيْهِ اِجْمَعْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ ضَالَّتِيْ فِيْ خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ
.
Allâhumma yâ jâmi‘an nâsi liyaumin lâ raiba fîh,
ijma’ bainî wa baina dlâllatî fî khairin wa ‘âfiyah
.
Artinya, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhan yang mengumpulkan semua manusia di hari yang tiada ragu lagi padanya. Pertemukan aku dan barangku yang hilang dengan kebaikan dan ‘afiyah,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).
.

Mengatasi Kaki Keram Kebas

Mengatasi Kaki Keram Kebas

Suatu kali seorang kaki pria di sebelah Ibnu Abbas mengalami kebas (kejang otot, kram, kesemutan). Ibnu Abbas berkata

اذكر أحبَّ الناس إليك فقال : محمّدٌ صلى الله عليه وسلم فذهبَ خَدَرُه

“Sebutkan nama manusia yang paling mencintaimu! Pria itu lantas mengucapkan ‘Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam (semoga Allah melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepada beliau)’. Penyakit itu pun lantas hilang.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Jadi, salah satu ikhtiar mengatasi kebas selain gerakan-gerakan fisik tertentu adalah dengan membaca shalawat. Redaksinya bisa beragam, seperti allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ Muhammad, atau shallallâhu ‘ala sayyidinâ Muhammad, atau yang lebih panjang dari ini. (Mahbib)

Nuonline


Wednesday, March 20, 2019

Wariskan Harta Terbaik Untuk Anak: Rajin Baca Surah Al Waqiah

Mewariskan harta terbaik dengan istiqomah membaca surah Al Waqiah




Doa Untuk Umat Nabi Muhammad SAW

Doa Untuk Umat Nabi Muhammad SAW

Doa Yang Selalu Dibaca Oleh Para Wali Allah.

اللهم اغفر لامة سيدنا محمد، اللهم ارحم امة سيدنا محمد، اللهم استر امة سيدنا محمد، اللهم اجبر امة سيدنا محمد، اللهم اصلح امة سيدنا محمد، اللهم عاف امة سيدنا محمد، اللهم احفظ امة سيدنا محمد، اللهم ارحم امة سيدنا محمد رحمة عامة يا رب العالمين، اللهم اغفر لامة سيدنا محمد مغفرة عامة يا رب العالمين، اللهم فرج عن امة سيدنا محمد فرجا عاجلا يا رب العالمين

Allaahummaghfirli ummati Sayyidinaa Muhammadin,
Allaahummarham ummata Sayyidinaa Muhammadin,
Allaahummastur ummata Sayyidinaa Muhammadin,
Allaahummajbur ummata Sayyidinaa Muhammadin,
Allaahumma ashlih ummata Sayyidinaa Muhammadin,
Allaahumma 'aafi ummata Sayyidinaa Muhammadin,
Allaahumma ahfadz ummata Sayyidinaa Muhammadin,
Allaahummarham ummata Sayyidinaa Muhammadin rahmatan 'aammatan yaa robbal 'aalamiina, Allaahummaghfirli ummati Sayyidinaa Muhammadin maghfirotan 'aammatan yaa robbal 'aalamiina,
Allaahumma farrij 'an ummati Sayyidinaa Muhammadin farajan 'aajilan yaa robbal 'aalamiina.

Artinya :
Ya Allah, ampunilah dosa umat Sayyidina Muhammad saww., Ya Allah, rahmatilah umat Sayyidina Muhammad saww., Ya Allah, tutuplah kejelekan umat Sayyidina Muhammad saww., Ya Allah, sulamlah kekurangan umat Sayyidina Muhammad saww., Ya Allah, baguskanlah umat Sayyidina Muhammad saww., Ya Allah, sejahterakanlah umat Sayyidina Muhammad saww., Ya Allah, jagalah umat Sayyidina Muhammad saww., Ya Allah, rahmatilah umat Sayyidina Muhammad saww. dengan rahmat yang melimpah, wahai Tuhan semesta alam, Ya Allah, ampunilah dosa umat Sayyidina Muhammad saww. dengan ampunan yang melimpah, wahai Tuhan semesta alam, Ya Allah, lapangkanlah jalan umat Sayyidina Muhammad saww. dengan lelapangan yang meluas, wahai Tuhan semesta alam.

Asy-Syaikh Ma'ruf Al-Karkhi berkata : "Barangsiapa membaca setiap hari

اللهم ارحم امة سيدنا محمد

niscaya Allah mencatat ia termasuk wali 'abdal".

Dalam riwayat yang lain:

اللهم اصلح امة سيدنا محمد، اللهم فرج عن امة سيدنا محمد

dibaca tiga kali niscaya Allah mencatatnya termasuk wali 'abdal.

(Di dalam kitab Nashoihul 'Ibad => Asy-Syaikh Nawawi Al-Banteniy, Kitab Tanbihul Ghafilin => Abullaits Assamarqandi dan kitab Ihya Ulumiddin => Imam Al-Ghazali)

Jadi dengan kita membaca doa tersebut diatas setiap hari maka insya Allah kita akan dicatat sama Allah orang yang banyak berbuat baik kepada umat Sayyidina Muhammad saww. dan dicatat termasuk golongan para wali, khususnya wali 'abdal.

Alfaqir ijazahkan doa ini bagi siapa saja yang mau mengamalkannya.. :)

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Majelis Nuurus Sa'aadah

Habib Luthfi bin Yahya: Amalan Wirid Rizki dan Bayar Hutang

Amalan Wirid Rizki dan Bayar Hutang

Habib Luthfi bin Yahya memberikan amalan dzikir untuk diamalkan setiap bada shubuh 100 kali yaitu :

لا إله إلا الله الملك الحق المبين محمد رسول الله الصادق الوعد الأمين

La ilaha illallahul Malikul Haqqul Mubin,
Muhammadur Rasulullahi Shodiqul Wa’diL Amin.

“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Menjadi Raja, Maha Benar, Maha Menjelaskan. Nabi Muhammad utusan Allah Yang benar, menepati janji dan terpercaya.”

Dalil Amalan Dzikir di atas dari Imam Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya, Imam Khathib al-Baghdadiy dalam Tarikh Baghdad dan Imam ad-Daylamiy dalam kitab Musnad al-Firdaus meriwayatkan.

عن علي رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من قال في كل يوم مائة مرة لا اله الا الله الملك الحق المبين كان آمنا من الفقر واستجلب به الغنى, وانسا من وحشة القبر واستقرع باب الجنة .

Artinya: ” Dari Ali Bin Abi Thalib semoga Allah memberi keridhaan kepadanya berkata; Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang setiap hari membaca “La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin” 100 kali, maka ia akan dilindungi dari faqir, mendatangkan kekayaan, dan diberikan hiburan dari kegelisahan dahsat di kuburan serta menjadi penyebab dirinya mengetuk pintu surga.”

Imam al-Qadhi Abu Bakr Ghassaniy dalam kitab al-Barqul Lami’ Wal Ghawstul Hami’ menambahkan: Siapa yang istiqomah membacanya akan Allah jadikan dunia mengudak-udak (mengejar) dirinya dan Allah ciptakan malaikat yang selalu bertasbih dari satu kalimat yang ia baca.

Para ahli ma’rifah mengamalkannya bada shubuh 100 kali. Mereka berkata; siapa yang membaca 100 kali bada shubuh, maka orang tersebut akan mendapat maqom makrifah di kalangan arif billah.

Ulama salafus shalih mengamalkannya dengan menambahkan menjadi:

لا إله إلا الله الملك الحق المبين محمد رسول الله صادق الوعد الأمين

La ilaha illallahul Malikul Haqqul Mubin, Muhammadur Rasulullahi Shodiqul Wa’diL Amin.



Tuesday, March 12, 2019

Mengejar Keberkahan Bulan Rajab

KEUTAMAAN BULAN RAJAB.

Bulan Rajab merupakan salah satu diantara empat bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt, yang disebut dengan "Asyhurul Hurum," Sebagaimana tersebutkan dalam Al-Qur'an :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

" Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus,." (QS. At-Taubah : 36)

Tiga bulan berurutan, yaitu Dzulqoidah, Dzulhijjah dan Muharrom dan yang satu berpisah yaitu bulan Rajab.

Dari Abu Bakrah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya : Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya (ada) empat bulan Haram, tiga (bulan) berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam serta Rajab Mudhar yang terdapat di antara (bulan) Jumadi Tsani dan Sya’ban. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bulan Rajab dikenal dengan sebutan Al-Ashom, yaitu bulan yang tuli karena tak terdengarnya suara peperangan didalamnya, Bulan Rajam karena didalamnya Allah telah merajam musuh-musuhNya dan para syaiton, sehingga mereka tak dapat mengganggu para aulia dan solihin. Bulan Rajab juga dikenal sebagai bulan Ashab, yakni bulan kucuran rahmat bagi hamba-hamba Allah yang bertaubat didalamnya dan limpahan cahaya-cahaya qabulnya bagi seluruh alam.

Kata Rajab terdiri dari 3 huruf, Ra', Jim dan Ba', masing-masing berarti : Rahmatullah, Jirmil abdi dan Birullah Ta'aalaa, yang seolah-olah dikatakan : "Hai hamba-Ku, Kujadilan dosa-dosa dan kebaikanmu diliput dengan rahmat-Ku, maka tiada tetap dosa-dosamu berkat kemulian bulan Rajab". (Majalisul Anwar).

Dikatakan pula bahwa setelah Rajab habis (hitungan bulannya), maka ia naik kelangit lalu Allah Swt. berfirman : "Hai bulan-Ku, apakah mereka mencintai dan memuliakanmu? Maka diamlah Rajab, hingga ditanya dua tiga kali, kemudian jawabnya : "Ya Tuhan, Engkaulah yang pandai merahasiakan segala cacad dan cela, dan Engkau pula yang menyuruh makhluk-Mu supaya merahasiakannya pada orang lain. Itulah sebabnya Rasul-Mu menyebutku "pekak", aku semata hanya mendengar kebaktian mereka, ketaatan, dan kebaikan mereka, lain tidak".

Selanjutnya Allah berfirman : "Engkau bulan-Ku yang pandai menyimpan cacad dan pekak, hamba-hambaKu yang ber'aib, Aku terima mereka berikut aib/cacadnya berkat kehormatanmu seperti halnya aku terima kamu berikut aib/cacadmu. Aku mengampuni mereka sebab menyesali dosa mereka satu kali dalam bulan Rajab, dan dalam bulan itu pula, Aku tiada mencatat kemaksiatan mereka". (Misyakatul Anwar).

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي

Nabi Saww. bersabda : "Bahwa Rajab itu bulan Allah, Sya'ban bulanKu dan Ramadhan adalah Bulan Ummat-Ku".

Hadis ini disebutkan dalam kita Al-Jami' karya Imam Suyuti. Para ulama menerangkan maksud hadis ini. Rajab adalah bulan untuk memperbanyak Istigfar, Sya'ban adalah bulan untuk memperbanyak Sholawat kepada Rasulullah Saww, dan Ramadhan adalah bulan memperbanyak bacaan Al-Qur'an.

خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، و ليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، و ليلة الفطر، و ليلة النحر

Sabda Nabi Saww. :
"Ada 5 malam yang tidak akan ditolak do'a setiap hamba didalamnya:
1. Malam pertama bulan Rajab
2. Malam Nishfu Sya'ban (malam pertengahan atau malam ke-15 bulan Sya'ban)
3. Malam Jum'at
4. Malam Hari Raya Idul Fitri
5. Malam Hari Raya Idul Adha (Qurban)"
(HR. Ibnu Asakir)

Nabi Saww. bersabda : "Siapa menyambut kehadiran malam pertama bulan Rajab, dengan aktifitas keagamaan, seperti shalat malam, baca Qur'an, dzikir dan lain-lain, maka ia berjiwa hidup, sekalipun umumnya manusia mati hatinya, dan Allah mencurahkan kebaikan dari (fikiran) bawah kepalanya, ia bersih dari dosa seperti baru lahir dari kandungan ibunya, dan ia diizinkan mensyafaati 70.000 ahli berdosa yang seharusnya dineraka". (Demikian dikutip dari kitab Lubil Al-Albab karya Maulana Tajul 'Arifin/A'rajiyah)

من صلى المغرب في أول ليلة من رجب ثم صلى بعدها عشرين ركعة ، يقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب ، وقل هو الله أحد مرة ، ويسلم فيهن عشر تسليمات ، أ تدرون ما ثوابه ؟ ……قال : حفظه الله في نفسه وأهله وماله وولده ، وأجير من عذاب القبر ،وجاز على الصراط كالبرق بغير حساب ولا عذاب

Barangsiapa yang sholat Maghrib di awal malam bulan Rajab kemudian sholat dua puluh rakaat setelahnya, membaca pada setiap rakaatnya surat al-Fatihah dan qul huwallohu ahad satu kali serta mengucapkan salam sebanyak sepuluh kali salam (setiap dua roka’at salam), tahukah kalian apakah ganjarannya?”… Beliau bersabda : “Allah akan menjaga dirinya, keluarganya, hartanya dan anaknya, dibebaskannya dari adzab kubur dan dibiarkan berjalan di atas titian bagaikan kilat tanpa hisab dan tanpa adzab.”

Niat sholatnya : Ushollii sunnatan rok’ataini lillaahi ta’ala (aku niat sholat sunnah dua roka’at karena Allah Ta’ala).

Disebutkan dalam kita Al-Jami' karya Imam Suyuti, diriwayatkan dari Ibnu Asakir dari Abi Umamah ra., Berkata Wahab bin Munabbih ra.: "Aku membaca dalam kitab Allah yang diturunkan sebelum Al-Qur'an bertuliskan, bahwa barang siapa yang beristighfar dibulan Rajab dipagi dan sore hari dengan mengangkat kedua tangannya seraya berkata : "Robbighfirlii Warhamnii Watub Alayya 70x, maka kulitnya tak akan disentuh oleh api neraka". (Diringkas dari kitab Tuhfatul Ikhwan)

Nabi Saww. bersabda : "Camkanlah, bahwasanya Rajab adalah bulan Allah yang pekak, siapapun puasa satu hari pada bulan itu, penuh keyakinan dan keikhlasan, maka dapat dipastikan keridhoan Allah yang besar padanya, dan siapa puasa 2 hari, maka seluruh penduduk langit dan bumi tidak sanggup mensifati besarnya karunia Allah yang diberikn kepadanya, dan siapa yang puasa 3 hari, maka ia diselamatkan dari malapetaka di dunia dan siksa diakhirat, juga terbebas dari penyakit gila, kusta dan sejenisnya serta dari ancaman Dajjal, siapa yang puasa 7 hari, maka tertutuplah baginya 7 pintu neraka jahanam, siapa yang puasa 8 hari maka terbuka baginya 8 pintu sorga, siapa yang puasa 10 hari, maka segala permohonannya dikabulkan oleh Allah Swt. dan siapa puasa setengah bulan, maka diampuni dosa-dosa yang terdahulu, dan amal jahatnya diganti dengan amal baiknya dan siapa menambah puasanya maka Allah juga menambah pahalanya". (Zubdah)

Ibnu Abbas ra. berkata : "Puasa di awal bulan Rajab dapat menghapus dosa (kafarat) selama 3 tahun, dihari kedua menjadi kafarat selama 2 tahun, dihari ketiga menjadi kafarat selama 1 tahun, kemudian di setiap hari sesudah itu menjadi kafarat selama 1 bulan". (HR. Abu Muhammad Al-Khalali, Dimuat dalam kitab Jami'Ush-Shaghir)

Abu Hurairah ra. berkata : "Bahwasanya Nabi Saww. diluar bulan Ramadhan tidak puasa kecuali bulan Rajab dan bulan Sya'ban".

إن في الجنة نهراً يقال له رجب ماؤه أشد بياضاً من اللبن وأحلى من العسل من صام يوماً من رجب سقاه الله من ذلك النهر

Sesungguhnya di dalam surga ada sungai yang disebut dengan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa yang berpuasa sehari dibulan Rajab, Alloh akan memberinya minum dari sungai tersebut.” (HR. Al Baihaqiy)



Do'a dan Dzikir yang baik untuk dibaca :

رَبِّ غْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَتُبْ عَلَيَّ

ROBBIGhFIRLII WARHAMNII WATUB 'ALAYYA 70x,
dibaca sehabis Subuh dan Maghrib selama bulan Rajab dengan mengangkat kedua tangannya seperti sedang berdoa.

سُبْحَانَ اللهُ الحَيُّ الْقَيُّوْمُ

SUBHAANALLAAHIL HAYYIL-QOYYUUM 100x, dibaca dari tanggal 1-10 Rajab.

سُبْحَانَ اللهِ الاَحَدِ الصَّمَدْ

SUBHAANALLAAHIL AHADISh-ShOMAD 100x, dibaca dari tanggal 11-20 Rajab.

سُبْحَانَ اللهُ الرَّؤُوْفُ

SUBHAANALLAAHIR-ROUFIR-RAHIIM 100x, dibaca dari tanggal 21-30 Rajab.

احمد رسول الله محمد رسول الله

Barang siapa membaca : AHMADU RASUULULLAH MUHAMMADUR RASUULULLAH 35X, Dibaca pada saat khutbah di hari Jum’at Akhir bulan Rojab, maka dimudahkan rizqinya dan dicukupi segala kebutuhanya (Qaul Ulama’).

Membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH 1000x setiap harinya selama dibulan Rajab.
Diriwayatkan,

ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ) ﺍَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ :ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَﻓِﻲ ﺭَﺟَﺐَ (ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ) ﺍَﻟْﻒُ ﻣَﺮَّﺓٍ
ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪ ﻟَﻪُ ﻣِﺎﺋَﺔُ ﺍَﻟْﻒٍﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﻭَﺑُﻨِﻲَ ﺍﻟﻠﻪ ﻟَﻪُ ﻣِﺎﺋَﺔُ ﻣَﺪِﻳْﻨَﺔٍ ﻓﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

Artinya :Dari Nabi SAW sesungguhnya ia bersabda : Barangsiapa yang membaca dibulan Rajab LAA ILAAHA ILLALLAH seribu kali maka niscaya Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan membangun seribu kota di dalam surga.

Niyat puasa selama dibulan rajab :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِحُرْمَةِ شَهْرِ رَجَبَ سُنّةً للهِ تَعَالى

NAWAITU ShOUMAGODIN LIHURMATI SyAHRI RAJABA SUNNATAN LILLAAHI TA'ALA.

Artinya : "Aku Niat Puasa esok hari karena menghormati bulan Rajab Sunnat Karena Allah Ta'ala".

 اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

ALLAAHUMMA BAARIK LANAA FII RAJABA WA SYA’BAANA WA BALLIGNAA ROMADHOONA.

Ya Allah berkahilah kami di dalam bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhon.

Dalam suatu riwayat disebutkan: Barangsiapa yang tidak mampu berpuasa, maka hendaknya membaca tasbih 100 kali setiap hari, agar memperoleh pahala puasa di dalamnya. Tasbihnya sebagai berikut:

سبحَان الاله الجليل، سبحان من لا ينبغي التَّسبيح إلاّ له، سبحان اْلأعزِّ الاكرم، سبحان من لبس العزَّ وهو له اَهلٌ

SUBHAANAL ILAAHIL JALIIL, SUBHAANA MAN LAA YANBAGhIT TASBIIHU ILLAA LAHU, SUBHAANAL A’AZZIL AKROM, SUBHAANA MAN LABISAL ‘IZZA WA HUWA LAHU AHLUN.

Artinya: Mahasuci Tuhan Yang Maha Agung, Mahasuci yang tak layak ditasbih kecuali Dia, Mahasuci Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Mahasuci Yang Memakai pakaian keagungan dan hanya Dia yang layak memilikinya.

Sebagian besar amalan di bulan Rajab dalilnya lemah atau dhoif, tetapi di dalam Mazhab Syafi’i hadits dhoif boleh dipakai dalam fadhoil amal (menambah keutamaan beramal).

Wallahu a’lam bishowab.

Silahkan di amalkan, alfaqir (Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus) ijazahkan bagi siapa saja yang mau mengamalkannya amalan-amalan di bulan Rajab tersebut di atas.


Website : http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/
Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
Majelis Nuurus Sa’aadah.
محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس



Keutamaan Shalat Tasbih

Shalat Tasbih.

Shalat Tasbih adalah shalat untuk mensucikan Allah dari segala sekutunya agar menambah kuat iman kita dan terhindar dari perbuatan syirik. Tidak mempunyai waktu tertentu, asal tidak dilakukan pada waktu yang dilarang, jumlah rakaatnya empat. Jika dilakukan pada siang hari empat rakaat dengan sekali salam dan jika dilakukan pada malam hari maka empat rakaat dengan dua kali salam (setiap dua rakaat salam).

Tata Cara Shalat Tasbih.

Secara umum, shalat tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

SUBHAANALLAAHI WALHAMDULILLAAHI WA LAA ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBAR.

Lafadz ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap raka’at dengan perincian sebagai berikut :

1. Sesudah membaca Al Fatihah dan surah sebelum ruku sebanyak 15 kali,
2. Ketika ruku’ sesudah membaca do’a ruku’ dibaca lagi sebanyak 10 kali,
3. Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal dibaca 10 kali,
4. Ketika sujud pertama sesudah membaca do’a sujud dibaca 10 kali,
5. Ketika duduk diantara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud dibaca 10 kali,
6. Ketika sujud yang kedua sesudah membaca do’a sujud dibaca lagi sebanyak 10 kali,
7. Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat) dibaca lagi sebanyak 10 kali.

Demikianlah rinciannya, bahwa shalat Tasbih dilakukan sebanyak 4 raka’at dengan sekali tasyahud, yaitu pada raka’at yang keempat lalu salam. Bisa juga dilakukan dengan cara dua raka’at-dua raka’at, di mana setiap dua raka’at membaca tasyahud kemudian salam. Wallâhu A’lam.

Lafaz niat empat rakaat :

اُصَلِّي سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَي. اَللهُ أَكْبَرْ

USHOLLII SUNNATAT TASBIIHI ARBA’A RAKA’AATIN
LILLAAHI TA’AALA, ALLAHU AKBAR.

Arinya : “Sengaja aku shalat sunnat tasbih empat rakaat karena Allah Ta’ala”.

Lafaz niat dua rakaat:

اُصَلِّي سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكَعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَي. اَللهُ أَكْبَرْ

USHOLLII SUNNATAT TASBIIHI RAK’ATAINI LILLAAHI TA’AAL, ALLAHU AKBAR.

Artinya : “Sengaja aku shalat sunnat tasbih dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Dalil dan manfaat dari shalat Tasbih :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ النَّيْسَابُورِيُّ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ أَبَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُفْيَانَ الْأُبُلِّيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ أَبُو حَبِيبٍ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ قَالَ حَدَّثَنِي رَجُلٌ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ يَرَوْنَ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ائْتِ
نِي غَدًا أَحْبُوكَ وَأُثِيبُكَ وَأُعْطِيكَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ يُعْطِينِي عَطِيَّةً قَالَ إِذَا زَالَ النَّهَارُ فَقُمْ فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَذَكَرَ نَحْوَهُ قَالَ ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ يَعْنِي مِنْ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ فَاسْتَوِ جَالِسًا وَلَا تَقُمْ حَتَّى تُسَبِّحَ عَشْرًا وَتَحْمَدَ عَشْرًا وَتُكَبِّرَ عَشْرًا وَتُهَلِّلَ عَشْرًا ثُمَّ تَصْنَعَ ذَلِكَ فِي الْأَرْبَعِ الرَّكَعَاتِ قَالَ فَإِنَّكَ لَوْ كُنْتَ أَعْظَمَ أَهْلِ الْأَرْضِ ذَنْبًا غُفِرَ لَكَ بِذَلِكَ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أُصَلِّيَهَا تِلْكَ السَّاعَةَ قَالَ صَلِّهَا مِنْ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ قَالَ أَبُو دَاوُد حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ خَالُ هِلَالٍ الرَّأْيِ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ الْمُسْتَمِرُّ بْنُ الرَّيَّانِ عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو مَوْقُوفًا وَرَوَاهُ رَوْحُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَجَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ النُّكْرِيِّ عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَوْلُهُ وَقَالَ فِي حَدِيثِ رَوْحٍ فَقَالَ حَدِيثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُهَاجِرٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ رُوَيْمٍ حَدَّثَنِي الْأَنْصَارِيُّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِجَعْفَرٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ فَذَكَرَ نَحْوَهُمْ قَالَ فِي السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ الرَّكْعَةِ الْأُولَى كَمَا قَالَ فِي حَدِيثِ مَهْدِيِّ بْنِ مَيْمُونٍ

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam An Naisabury telah menceritakan kepada kami Musa bin Abdul Aziz telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Aban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abbas bin Abdul Mutthalib: “Wahai Abbas, wahai pamanku, sukakah paman, aku beri, aku karuniai, aku beri hadiah istimewa, aku ajari sepuluh macam kebaikan yang dapat menghapus sepuluh macam dosa? Jika paman mengerjakan ha itu, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa paman, baik yang awal dan yang akhir, baik yang telah lalu atau yang akan datang, yang di sengaja ataupun tidak, yang kecil maupun yang besar, yang samar-samar maupun yang terang-terangan. Sepuluh macam kebaikan itu ialah; “Paman mengerjakan shalat empat raka’at, dan setiap raka’at membaca AL Fatihah dan surat, apabila selesai membaca itu, dalam raka’at pertama dan masih berdiri, bacalah; “Subhanallah wal hamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada ilah selain Allah dan Allah Maha besar) ” sebanyak lima belas kali, lalu ruku’, dan dalam ruku’ membaca bacaan seperti itu sebanyak sepuluh kali, kemudian mengangkat kepala dari ruku’ (i’tidal) juga membaca seperti itu sebanyak sepuluh kali, lalu sujud juga membaca sepuluh kali, setelah itu mengangkat kepala dari sujud (duduk di antara dua sujud) juga membaca sepuluh kali, lalu sujud juga membaca sepuluh kali, kemudian mengangkat kepala dan membaca sepuluh kali, Salim bin Abul Ja’d jumlahnya ada tujuh puluh lama kali dalam setiap raka’at, paman dapat melakukannya dalam empat raka’at. jika paman sanggup mengerjakannya sekali dalam sehari, kerjakanlah. Jika tidak mampu, kerjakanlah setiap jum’at, jika tidak mampu, kerjakanlah setiap bulan, jika tidak mampu, kerjakanlah setiap tahun sekali. Dan jika masih tidak mampu, kerjakanlah sekali dalam seumur hidup.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sufyan Al Ubuli telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal Abu Habib telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Malik dari Abu Jauza` dia berkata; telah menceritakan kepada kami seseorang laki-laki yang pernah bersahabat dengannya, menurut mereka, dia adalah Abdullah bin ‘Amru dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Datanglah kepadaku besok hari, aku akan memberimu suatu pemberian.” Hingga aku mengira beliau benar-benar akan memberiku suatu pemberian. Beliau bersabda: “Apabila siang agak reda, maka berdirilah untuk menunaikan shalat empat raka’at…” kemudian dia menyebutkan hadits seperti di atas. Beliau lalu bersabda: “Kemudian kamu mengangkat kepalamu -yaitu dari sujud kedua- sehingga kamu benar-benar duduk, dan janganlah berdiri hingga membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil masing-masing sepuluh kali, lalu kamu melakukan hal itu di empat raka’at.” Beliau melanjutkan; “Seandainya kamu orang yang paling besar dosanya di antara penduduk bumi, maka dosa-dosamu akan di ampuni dengan melakukan hal itu (shalat tasbih).” Aku bertanya; “Jika aku tidak mampu melaksanakan shalat tasbih pada waktu itu?” beliau menjawab: “Kerjakanlah di malam hari atau siang hari.” Abu Daud berkata; “Habban bin Daud adalah pamannya Hilal Ar Ra’yi. Abu Daud berkata; “Hadits ini di riwayawatkan pula oleh Al Mustamir Ar Rayyan dari Abu Al Jauza dari Abdullah bin ‘Amru secara mauquf. Dan di riwayatkan pula oleh Rauh bin Al Musayyab dan Ja’far bin Sulaiman dari ‘Amru bin Malik An Nukri dari Abu Al Jauza dari Ibnu Abbas. Sedangkan perkataannya mengenai hadits Rauh, dia berkata; yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Telah menceritakan kepada kami Abu Taubah Ar Rabi’ bin Nafi’ telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhajir dari ‘Urwah bin Ruwaim telah menceritakan kepadaku Al Anshari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ja’far…” dengan hadits ini, lalu dia menyebutkan seperti hadits mereka, katanya; “……dalam sujud kedua pada raka’at pertama.” Sebagaimana dia berkata dalam hadits Mahdi bin Maimun.” (HR. Abu Daud No.1105)

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو عِيسَى الْمَسْرُوقِيُّ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُبَيْدَةَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ يَا عَمِّ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَنْفَعُكَ أَلَا أَصِلُكَ قَالَ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ فَإِذَا انْقَضَتْ الْقِرَاءَةُ فَقُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً قَبْلَ أَنْ تَرْكَعَ ثُمَّ ارْكَعْ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ اسْجُدْ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَك فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ اسْجُدْ فَقُلْهَا عَشْرًا ثُمَّ ارْفَعْ رَأْسَكَ فَقُلْهَا عَشْرًا قَبْلَ أَنْ تَقُومَ فَتِلْكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ وَهِيَ ثَلَاثُ مِائَةٍ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوبُكَ مِثْلَ رَمْلِ عَالِجٍ غَفَرَهَا اللَّهُ لَكَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَقُولُهَا فِي يَوْمٍ قَالَ قُلْهَا فِي جُمُعَةٍ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُلْهَا فِي شَهْرٍ حَتَّى قَالَ فَقُلْهَا فِي سَنَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Abdurrahman Abu Isa Al Masruqi berkata, telah menceritakan kepada kami Zaid Al Hubab berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ubaidah berkata, telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Abu Sa’id -mantan budak Abu Bakr bin Amru bin Hazm- dari Abu Rafi’ ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abbas: “Wahai paman, maukah jika aku memberimu hadiah, maukah jika aku memberikan manfaat kepadamu, maukah jika aku menyambung silaturahmi kepadamu?” ia menjawab, “Tentu, ya Rasulullah. ” Beliau bersabda: “Shalatlah empat raka’at, di setiap raka’at engkau membaca Fatihatul kitab (surat Al Fatihah) dan satu surat. Apabila selesai membaca, maka ucapkanlah; “SUBHAANALLAHU WAL HAMDULILLAH WA LAA ILAAHA ILLA ALLAHU WALLAHU AKBAR (Maha Suci Allah dan Segala Puji bagi Allah, tidak ada Tuhan Yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar) sebanyak lima belas kali sebelum rukuk. Kemudian rukuk dan ucapkanlah bacaan itu lagi sepuluh kali. Kemudian angkatlah kepalamu dan ucapkanlah lagi sepuluh kali, kemudian sujud dan ucapkanlah lagi sepuluh kali, kemudian angkatlah kepalamu dan ucapkanlah lagi sepuluh kali, kemudian sujud dan ucapkanlah lagi sepuluh kali, kemudian angkatlah kepalamu dan ucapkanlah lagi sepuluh kali sebelum engkau bangun. Semua itu genap berjumlah tujuh puluh lima dalam setiap raka’at, dan berjumlah tiga ratus dalam empat raka’at. Sekiranya dosa-dosamu seperti pasir yang menggunung, Allah akan mengampuninya. ” Abbas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak mampu mengucapkan itu dalam sehari?” Beliau bersabda: “Lakukanlah sekali dalam seminggu, jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam sebulan, ” hingga beliau bersabda: “Maka Lakukanlah sekali dalam setahun. ” (HR. Ibnu Majah No.1376)

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ النَّيْسَابُورِيُّ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ أَبَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ لَكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَقَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ وَخَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَصَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرُ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ قُلْتَ وَأَنْتَ قَائِمٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُ وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Bisyr bin Al Hakam berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Abdul Aziz berkata, telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Aban berkata, telah menceritakan kepada kami Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abbas bin Abdul Muththalib: “Wahai Abbas, wahai paman, maukah jika aku menganugerahimu, maukah jika aku memberimu hadiah dan maukah jika aku berbuat untukmu sepuluh perbuatan terpuji? Jika kamu melakukannya, Allah akan mengampuni dosa-dosamu baik yang pertama atau yang terakhir, yang telah lalu atau yang baru, yang salah atau yang sengaja, yang kecil atau yang besar, yang tersembunyi atau yang nampak. Sepuluh hal itu adalah; engkau laksanakan shalat empat raka’at, pada setiap raka’atnya engkau baca Fatihatul kitab (surat al Fatihah) dan satu surat. Jika engkau selesai dari membaca di raka’at pertama, maka ucapkan dalam keadaan berdiri; “SUBHAANALLAHU WAL HAMDULILLAH WA LAA ILAAHA ILLA ALLAHU WALLAHU AKBAR (Maha Suci Allah dan Segala Puji bagi Allah, tidak ada Tuhan Yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar) sebanyak lima belas kali. Kemudian engkau rukuk dan engkau baca sepuluh kali dalam kondisi seperti itu, lalu angkat kepalamu dari rukuk dan engkau ucapkan sebanyak sepuluh kali, kemudian engkau sujud dan engkau ucapkan sebanyak sepuluh kali ketika sujud. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud dan engkau ucapkan sebanyak sepuluh kali. Kemudian engkau sujud dan engkau ucapkan sepuluh kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud dan engkau ucapkan sepuluh kali. Maka semua itu berjumlah tujuh puluh lima dalam satu raka’at, dan lakukanlah hal itu di empat raka’at, jika engkau mampu melakukan shalat seperti itu sekali dalam setiap harinya maka lakukanlah. Jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam tiap jum’atnya. Jika tidak mampu melakukannya maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak mampu melakukannya maka lakukanlah sekali seumur hidup. ” (HR. Ibnu Majah No.1377)

Para Ulama yang Menshahihkan Hadits Shalat Tasbih.

1. Abu Dâud As-Sijistâny. Beliau berkata, “Tidak ada, dalam masalah shalat Tasbih, hadits yang lebih shahih dari hadits ini.”
2. Ad-Dâraquthny. Beliau berkata, “Hadits yang paling shahih dalam masalah keutamaan Al-Qurân adalah (hadits tentang keutamaan) Qul Huwa Allâhu Ahad, dan yang paling shahih dalam masalah keutamaan shalat adalah hadits tentang shalat Tasbih.”
3. Al-Âjurry.
4. Ibnu Mandah.
5. Al-Baihaqy.
6. Ibnu As-Sakan.
7. Abu Sa’ad As-Sam’âny.
8. Abu Musa Al-Madiny.
9. Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.
10. Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.
11. Al-Mundziry dalam At-Targhib Wa At-Tarhib dan Mukhtashar Sunan Abu Dâud .
12. Ibnush Shalâh. Beliau berkata, “Shalat Tasbih adalah sunnah, bukan bid’ah. Hadits-haditsnya dipakai beramal dengannya.”
13. An-Nawawy dalam At-Tahdzîb Al – Asma Wa Al-Lughât .
14. Abu Manshur Ad Dailamy dalam Musnad Al-Firdaus .
15. Shalâhuddin Al-‘Alâi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih shahih atau hasan, dan harus (tidak boleh dha’if).”
16. Sirajuddîn Al-Bilqîny. Beliau berkata, “Hadits shalat tasbih shahih dan ia mempunyai jalan-jalan yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya, maka ia adalah sunnah dan sepantasnya diamalkan.”
17. Az-Zarkasyi. Beliau berkata, “Hadits shalat Tasbih adalah shahih dan bukan dha’if apalagi maudhu’ (palsu).”
18. As-Subki.
19. Az-Zubaidy dalam Ithâf As-Sâdah Al-Muttaqîn 3/473.
20. Ibnu Nâshiruddin Ad-Dimasqy.
21. Al-Hâfidz Ibnu Hajar dalam Al-Khishâl Al-Mukaffirah Lidzdzunûb Al-Mutaqaddimah Wal Muta`Akhkhirah , Natâijul Afkâr Fî Amâlil Adzkâr dan Al-Ajwibah ‘Alâ Ahâdits Al-Mashâbîh .
22. As-Suyûthy.
23. Al-Laknawy.
24. As-Sindy.
25. Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy .
26. Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Syâkir rahimahullâh.
27. Al-‘Allamah Al-Muhaddits Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh dalam Shahîh Abi Dâud (hadits 1173-1174), Shahîh At-Tirmidzy , Shahîh At-Targhib (1/684-686) dan Tahqîq Al-Misykah (1/1328-1329).
28. Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hâdy Al-Wâdi’iy rahimahullâh dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain .

Hayo kita hidupkan sunnah Nabi Muhammad saww. dengan mengerjakan shalat sunnah tasbih, setiap hari atau seminggu sekali atau sebulan sekali atau setahun sekali atau seumur hidup sekali.

Website : http://shulfialaydrus.blogspot.co.id/
Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus, S.Kom.
Majelis Nuurus Sa’aadah.
محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AMALAN PELUNAS HUTANG

 AMALAN PELUNAS HUTANG... (Amalan Ijazah Al-Habib Ali bin Husein Al-Attas atau lebih dikenal dengan Habib Ali Bungur) Dalam kitab Al Qirthos...