Rahasia didalam surah Al Fatihah
Showing posts with label Sufi-Tarekat. Show all posts
Showing posts with label Sufi-Tarekat. Show all posts
Tuesday, July 27, 2021
Friday, March 29, 2019
Belajar Kesabaran Atas Deraan Kesulitan dari Abu Qilabah
Belajar Kesabaran Atas Deraan Kesulitan dari Abu Qilabah
Abu Ibrahim bercerita:
.
Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang…
...
Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..
Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
.
Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…
.
Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yg mengurusinya? atau isteri yang menemaninya? ternyata tak ada seorang pun…
.
Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”
.
“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” Tanyaku.
.
“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? Lanjutku.
.
“Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” Jawabnya.
.
“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” Ucapku.
.
“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” Tanyanya.
.
“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu.” Kataku.
.
“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?
.
“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.
.
“Iya benar.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Jawabnya.
.
“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” Katanya.
.
“Banyak juga…” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
.
“Bukankah Allah memberiku lisan yg dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” Tanyanya.
.
“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yg bisu tidak bisa bicara?” Tanyanya.
.
“Sangat banyak.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Jawabnya.
.
“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” Tanyanya.
.
“Iya benar.” Jawabku. Lalu katanya, “Padahal berapa banyak orang yg menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”
.
“Banyak sekali.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
.
Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…
.
Betapa banyak orang sakit selain beliau, yg musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yg lumpuh, ada yg kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yg kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yg menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…
.
pak tua mengatakan:
“Bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?”
.
“Iya.. apa permintaanmu?” Kataku.
.
Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya…”
.
Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…
.
Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…
.
Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.
.
Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yg mengerumuni sesuatu, Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.
.
Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…
.
Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…
.
Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam…
.
Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?
.
Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?
.
Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”
.
Namun kataku, “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”
.
“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.
.
“Lantas siapakah di antara kalian yg lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.
.
“Tentu Ayyub…” jawabnya.
.
“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.
.
Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata, “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.
.
Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yg ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya…
.
Maka kudapati ada tiga orang yg mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…
.
Kukatakan, “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yg mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”
.
“Iya..” Jawab mereka.
.
Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak, “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”
.
Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…
.
Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…
.
Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yang hijau… maka aku bertanya kepadanya:
.
“Hai Abu Qilabah… apa yg menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”
.
Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:
( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )
Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali
.
Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.
.
Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: ‘Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.
Habib Hud Alatas
Abu Ibrahim bercerita:
.
Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang…
...
Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..
Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
.
Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…
.
Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yg mengurusinya? atau isteri yang menemaninya? ternyata tak ada seorang pun…
.
Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku… ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”
.
“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” Tanyaku.
.
“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? Lanjutku.
.
“Aku seorang yang sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” Jawabnya.
.
“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” Ucapku.
.
“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” Tanyanya.
.
“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu.” Kataku.
.
“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?
.
“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.
.
“Iya benar.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Jawabnya.
.
“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” Katanya.
.
“Banyak juga…” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
.
“Bukankah Allah memberiku lisan yg dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” Tanyanya.
.
“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yg bisu tidak bisa bicara?” Tanyanya.
.
“Sangat banyak.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Jawabnya.
.
“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” Tanyanya.
.
“Iya benar.” Jawabku. Lalu katanya, “Padahal berapa banyak orang yg menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”
.
“Banyak sekali.” Jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.” Katanya.
.
Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…
.
Betapa banyak orang sakit selain beliau, yg musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yg lumpuh, ada yg kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yg kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yg menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…
.
pak tua mengatakan:
“Bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?”
.
“Iya.. apa permintaanmu?” Kataku.
.
Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya…”
.
Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…
.
Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…
.
Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.
.
Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yg mengerumuni sesuatu, Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.
.
Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…
.
Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…
.
Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam…
.
Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?
.
Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?
.
Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”
.
Namun kataku, “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”
.
“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.
.
“Lantas siapakah di antara kalian yg lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.
.
“Tentu Ayyub…” jawabnya.
.
“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.
.
Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata, “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.
.
Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yg ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya…
.
Maka kudapati ada tiga orang yg mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…
.
Kukatakan, “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yg mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”
.
“Iya..” Jawab mereka.
.
Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak, “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”
.
Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…
.
Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…
.
Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yang hijau… maka aku bertanya kepadanya:
.
“Hai Abu Qilabah… apa yg menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”
.
Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:
( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )
Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali
.
Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.
.
Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: ‘Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.
Habib Hud Alatas
Thursday, March 28, 2019
Wednesday, March 27, 2019
Gus Baha: Belajar makna Laa ilaha ilallah menurut ahli hakikat
Belajar makna Laa ilaha ilallah menurut ahli hakikat.
Laa ilaha ilallah = tidak ada wujud (dengan makna) hakiki kecuali Allah itu sendiri.
Laa ilaha ilallah = tidak ada wujud (dengan makna) hakiki kecuali Allah itu sendiri.
Sunday, March 24, 2019
Gus Baha: Jangan Tenggelam Sedih Karena Dosa, Ingatlah Ampunan Allah Besar
Gus Baha: Jangan Tenggelam Sedih Karena Dosa, Ingatlah Ampunan Allah Besar
Manusia jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan karena dosa. Jangan lupakan bahwa Allah itu maha pengampung dan luas rahmatnya. Allah Maha Pemberi Ampunan melebih semua dosa yang ditanggung manusia.
Manusia jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan karena dosa. Jangan lupakan bahwa Allah itu maha pengampung dan luas rahmatnya. Allah Maha Pemberi Ampunan melebih semua dosa yang ditanggung manusia.
Rabi’ ah al-Adawiyah: Dia Bershalawat 50.000 Dalam Sehari
Rabi’ ah al-Adawiyah: Dia Bershalawat 50.000 Dalam Sehari
Rabiah Al-Adawiyah dikenal juga dengan nama Rabi'ah Basri adalah seorang sufi wanita yang dikenal karena kesucian dan dan kecintaannya terhadap Allah. Rabi'ah dari klan Al-Atik suku Qays bin 'Adi, dimana ia terkenal dengan sebutan al-Qaysyah.
Rabi’ah al-Adawiyah adalah sedikit dari ulama sufi perempuan yang sangat disegani dalam sejarah peradaban Islam. Pemikiran dan laku spiritualnya terus dikaji hingga hari ini. Berbagai macam kisah hidupnya pun sudah banyak dikupas dan ditulis dalam banyak buku.
Termasuk soal ajaran cinta (mahabbah). Selain Jalaluddin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi yang mengusung mazhab cinta. Cintanya kepada Allah begitu dalam dan kuat. Sehingga ia tidak mampu mencintai yang lainnya karena cintanya hanya untuk Allah.
Rabi’ah menyembah Allah dengan dasar cinta (hubb), bukan karena takut atau harap (roja’ dan khauf) sebagaimana kebanyakan orang. Karena saking cintanya kepada Allah, Rabi’ah pernah berujar bahwa ia tidak mendambakan surga dan tidak takut kalau dimasukkan neraka.
Rabiah Al-Adawiyah dikenal juga dengan nama Rabi'ah Basri adalah seorang sufi wanita yang dikenal karena kesucian dan dan kecintaannya terhadap Allah. Rabi'ah dari klan Al-Atik suku Qays bin 'Adi, dimana ia terkenal dengan sebutan al-Qaysyah.
Rabi’ah al-Adawiyah adalah sedikit dari ulama sufi perempuan yang sangat disegani dalam sejarah peradaban Islam. Pemikiran dan laku spiritualnya terus dikaji hingga hari ini. Berbagai macam kisah hidupnya pun sudah banyak dikupas dan ditulis dalam banyak buku.
Termasuk soal ajaran cinta (mahabbah). Selain Jalaluddin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi yang mengusung mazhab cinta. Cintanya kepada Allah begitu dalam dan kuat. Sehingga ia tidak mampu mencintai yang lainnya karena cintanya hanya untuk Allah.
Rabi’ah menyembah Allah dengan dasar cinta (hubb), bukan karena takut atau harap (roja’ dan khauf) sebagaimana kebanyakan orang. Karena saking cintanya kepada Allah, Rabi’ah pernah berujar bahwa ia tidak mendambakan surga dan tidak takut kalau dimasukkan neraka.
Saturday, March 23, 2019
Menikmati Saat Sujud: Semua Mayit Doanya Hanya Minta Dihidupkan Sekali Lagi Buat Ibadah
Menikmati Saat Sujud: Semua Mayit Doanya Hanya Minta Dihidupkan Sekali Lagi Buat Ibadah
Semua manusia yang dikuburkan doanya cuma satu, maunya cuma satu yakni minta ke Allah dihidupkan sekali lagi agar bisa beribadah. Mampu shalat lagi itu sebuah berkah Allah yang tiada duanya maka nikmati selagi masih hidup agar besok saat dikuburkan tidak menjerit jerit minta dihidupkan sekali lagi hanya buat shalat ibadah.
Semua manusia yang dikuburkan doanya cuma satu, maunya cuma satu yakni minta ke Allah dihidupkan sekali lagi agar bisa beribadah. Mampu shalat lagi itu sebuah berkah Allah yang tiada duanya maka nikmati selagi masih hidup agar besok saat dikuburkan tidak menjerit jerit minta dihidupkan sekali lagi hanya buat shalat ibadah.
Tuesday, March 12, 2019
Gus Baha: Cerita Unik Para Kekasih Allah
Gus Baha: Cerita Unik Para Kekasih Allah
Jabaran jenaka dari Gus Baha, tentang sahabat Nabi Muhammad saw yang bandel bukan kepalang tapi sahabat ini lucu dan suka membuat Nabi tertawa.
Nabi Musa as yang gagal meminta hujan turun lalu meminta tolong diberi doa kepada seorang kekasih Allah yang menjadi penggembala kambing.
Jabaran jenaka dari Gus Baha, tentang sahabat Nabi Muhammad saw yang bandel bukan kepalang tapi sahabat ini lucu dan suka membuat Nabi tertawa.
Nabi Musa as yang gagal meminta hujan turun lalu meminta tolong diberi doa kepada seorang kekasih Allah yang menjadi penggembala kambing.
Monday, March 4, 2019
Taat Kepada Guru Agar Berkah Hidupnya
Taat Kepada Guru Agar Berkah Hidupnya
Ketika ruang pengajian Imam Malik bin Anas Rahimahullahu Ta’ala penuh dengan pelajar yang menimba ilmu darinya. Tiba-tiba ada yang berteriak, “Hoiii,,, ada gajah!”. Langsung semua santri yang ada dalam ruangan semburat keluar, sebab itu kejadian langka.
Kecuali santri Yahya bin Yahya al-Laysi al-Andalusi, ia tidak bergeming dan menunggu setia keterangan guru mulianya.
“Kenapa kau tidak keluar seperti teman-temanmu untuk melihat makhluk ajib itu? Bukankah gajah tidak ada di negaramu?!” tanya Imam Malik penasaran.
“Anu guru, aku kesini dari negaraku, hanya ingin melihat panjenengan. Belajar dari petunjuk dan ilmumu. Bukan untuk melihat gajah …”
Takjub Imam Malik atas jawaban santrinya ini. Dan seterusnya Beliau menjuluki Yahya dengan ‘Aqil Ahli Andalus: Cendekia negara Andalus.
Panggilan sekaligus doa sang guru mustajab. Kelak waktu pulang ke Negerinya, Andalusia Spanyol. Syaikh Yahya menjadi salah satu pemuka daerahnya. Penyebar madzhab Maliki. Dan riwayat kitab Muwattho karya Imam Malik yang paling baik dan paling masyhur adalah lewat goresan tintanya! Sekaligus menjadi ulama yang sangat diperhitungkan dikalangan Umara Andalusia, ples doanya mustajab!
Beliau wafat pada tahun 234 H. dan dimakamkan di dekat Masjid Cordoba di area pemakaman Ibnu Abbas.
Kisah yang hampir sama, juga ada dibelahan dunia lain, yakni di Basrah, Irak:
Waktu Santri Dhahhak bin Mukhallad bin Dhahhak yang berjuluk Abi Asyhim mengaji dihadapan Imam Ibnu Juraij, mendadak ada rombongan gajah. Santri yang mengaji pada Imam Juraijpun juga buyar semua, kecuali santri Abi Asyim.
“Kenapa kamu kok tidak keluar melihat gajah?” tanya Imam Ibnu Juraij.
“Karena, aku tidak anda beri jam pengganti dilain waktu, guru.”
“Kamu Nabiil; Kamu mulia, berjiwa besar dan layak jadi panutan”
Dan mulai saat itu. Ketika Abu Asyim menghadap Imam Ibnu Juraid. Sang guru memanggilnya Nabil. Hingga tercatat dalam kitab-kitab kuno nama Beliau yang masyhur adalah Abi Asyim an-Nabiil.
Tak kurang Imam sekaliber Imam Bukhari pernah meriwayatkan kata mutiaranya, “Aku mendengar Aba Asyim an-Nabil berkata, “Ketika akalku menerima bahwa ghibah/menggunjing adalah haram. Setelah itu, aku sama sekali tidak pernah menggunjing orang lain”.
Wallahu A’lam bis-Shawaab.
FB Robert Azmi
Ketika ruang pengajian Imam Malik bin Anas Rahimahullahu Ta’ala penuh dengan pelajar yang menimba ilmu darinya. Tiba-tiba ada yang berteriak, “Hoiii,,, ada gajah!”. Langsung semua santri yang ada dalam ruangan semburat keluar, sebab itu kejadian langka.
Kecuali santri Yahya bin Yahya al-Laysi al-Andalusi, ia tidak bergeming dan menunggu setia keterangan guru mulianya.
“Kenapa kau tidak keluar seperti teman-temanmu untuk melihat makhluk ajib itu? Bukankah gajah tidak ada di negaramu?!” tanya Imam Malik penasaran.
“Anu guru, aku kesini dari negaraku, hanya ingin melihat panjenengan. Belajar dari petunjuk dan ilmumu. Bukan untuk melihat gajah …”
Takjub Imam Malik atas jawaban santrinya ini. Dan seterusnya Beliau menjuluki Yahya dengan ‘Aqil Ahli Andalus: Cendekia negara Andalus.
Panggilan sekaligus doa sang guru mustajab. Kelak waktu pulang ke Negerinya, Andalusia Spanyol. Syaikh Yahya menjadi salah satu pemuka daerahnya. Penyebar madzhab Maliki. Dan riwayat kitab Muwattho karya Imam Malik yang paling baik dan paling masyhur adalah lewat goresan tintanya! Sekaligus menjadi ulama yang sangat diperhitungkan dikalangan Umara Andalusia, ples doanya mustajab!
Beliau wafat pada tahun 234 H. dan dimakamkan di dekat Masjid Cordoba di area pemakaman Ibnu Abbas.
Kisah yang hampir sama, juga ada dibelahan dunia lain, yakni di Basrah, Irak:
Waktu Santri Dhahhak bin Mukhallad bin Dhahhak yang berjuluk Abi Asyhim mengaji dihadapan Imam Ibnu Juraij, mendadak ada rombongan gajah. Santri yang mengaji pada Imam Juraijpun juga buyar semua, kecuali santri Abi Asyim.
“Kenapa kamu kok tidak keluar melihat gajah?” tanya Imam Ibnu Juraij.
“Karena, aku tidak anda beri jam pengganti dilain waktu, guru.”
“Kamu Nabiil; Kamu mulia, berjiwa besar dan layak jadi panutan”
Dan mulai saat itu. Ketika Abu Asyim menghadap Imam Ibnu Juraid. Sang guru memanggilnya Nabil. Hingga tercatat dalam kitab-kitab kuno nama Beliau yang masyhur adalah Abi Asyim an-Nabiil.
Tak kurang Imam sekaliber Imam Bukhari pernah meriwayatkan kata mutiaranya, “Aku mendengar Aba Asyim an-Nabil berkata, “Ketika akalku menerima bahwa ghibah/menggunjing adalah haram. Setelah itu, aku sama sekali tidak pernah menggunjing orang lain”.
Wallahu A’lam bis-Shawaab.
FB Robert Azmi
Wednesday, February 27, 2019
Dzikir "Yaa Latif" Yang Melenakan Hati
Dzikir "Yaa Latif" Yang Melenakan Hati
Salah satu dzikir favorit, dan rekaman dzikir ini paling suka diputar saat malam. Capek seharian bekerja diluar mendengarkan ini rasanya langsung nyessss adem.
Salah satu dzikir favorit, dan rekaman dzikir ini paling suka diputar saat malam. Capek seharian bekerja diluar mendengarkan ini rasanya langsung nyessss adem.
Tuesday, February 26, 2019
Kyai Kampung Dari Purworejo Yang Kerap Bertemu Rasulullah SAW
Kyai Kampung Dari Purworejo Yang Kerap Bertemu Rasulullah SAW
Kisah seorang Kyai sepuh dari Purworejo yang kerap bermimpi ketemu kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kyai sepuh alim ini adalah murid dari alm Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki salah satu pakar hadits yang terkenal dijamannya.
Kisah seorang Kyai sepuh dari Purworejo yang kerap bermimpi ketemu kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kyai sepuh alim ini adalah murid dari alm Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki salah satu pakar hadits yang terkenal dijamannya.
Thursday, February 21, 2019
Kalimah LA ILAHA ILLALLAH Dapat Mengguncang Arsy Allah
Kalimah LA ILAHA ILLALLAH Dapat Mengguncang Arsy Allah
Mengucapkan kalimah LA ILAHA ILLALLAH dengan sepenuh hati dan benar, akan dapat mengguncang arsy Allah. Kalimah ini akan menurunkan ampunan atas dosa manusia dan mengabulkan doa hajat.
Zikir yang sangat utama adalah kalimat tauhid “La ilaha Illallah”. Beberapa riwayat menguatkan pendapat ini di antaranya hadis riwayat Malik dan at-Tirmidzi.
Rasulullah SAW bersabda,”(Kalimat) paling utama yang aku (Rasulullah) dan para nabi sebelumku adalah “La ilaha Illallah.”
Syekh Idrus yang merupakan putra sultan Buton ke-27 bernama La Badaru (1799-1823) dalam kitabnya yang berjudul Mu’nisat al-Qulub menjabarkan khasiat berzikir kelaimat tauhid dengan mengutip nukilan kitab ar-Risalah al-Qusyairiyyah karya Imam al-Qusyairi. Berikut sejumlah manfaat zikir tauhid yang justru banyak dilupakan umat Islam saat ini:
Menurut Imam al-Qusyairi, zikir kalimat tauhid pada setiap pagi sebanyak 1.000 kali dalam kondisi bersuci akan mempermudah membuka pintu rezeki.
Jika diucapkan dengan jumlah yang sama menjelang tidur, ruh orang tersebut akan bermalam di Arsy dan mengambil asupan sekuatnya dari alam tersebut.
Bila dilafalkan pada siang, setan akan melemah. Banyak lagi khasiat langsung dari zikir kalimat tauhid seperti menyingkirkan kejahatan dan membuka tabir alam gaib. Ini sebagaimana hadis riwayat at-Tirmidzi yang menyebutkan bahwa kalimat tauhid menegasikan hijab antara Allah SWT hingga benar-benar membersihkannya.
Syekh Idrus juga menyertakan riwayat penguat manfaat zikir bahwa zikir kalimat tauhid adalah zikir pelebur dosa yang bisa mengantarkan seseorang ke surga dan selamat dari api neraka.
Bahkan dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan, kalimat tauhid adalah kunci surga.
Menurut Abu al-Fadhl al-Jauhari, kalimat tauhid juga merupakan zikir segala apa yang ada di surga, termasuk pepohonan dan sungai-sungainya yang indah. Sesaat para penghuni surga masuk, mereka akan mendengar lantunan kalimat tauhid itu secara merdu. Sebagian pun lantas berucap zikir yang banyak dilupakan sewaktu berada di dunia.
Kalimat tauhid juga kerap dijadikan resep oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani kepada siapapun yang mengeluhkan kemaksiatan kepada tokoh sufi tersebut. Nasihat berupa kalimat tauhid itu membuat pencinta khamar dan pelaku zina, atas seizin Allah SWT, akhirnya bertobat berkat bacaan zikir tauhid.
Mengucapkan kalimah LA ILAHA ILLALLAH dengan sepenuh hati dan benar, akan dapat mengguncang arsy Allah. Kalimah ini akan menurunkan ampunan atas dosa manusia dan mengabulkan doa hajat.
Zikir yang sangat utama adalah kalimat tauhid “La ilaha Illallah”. Beberapa riwayat menguatkan pendapat ini di antaranya hadis riwayat Malik dan at-Tirmidzi.
Rasulullah SAW bersabda,”(Kalimat) paling utama yang aku (Rasulullah) dan para nabi sebelumku adalah “La ilaha Illallah.”
Syekh Idrus yang merupakan putra sultan Buton ke-27 bernama La Badaru (1799-1823) dalam kitabnya yang berjudul Mu’nisat al-Qulub menjabarkan khasiat berzikir kelaimat tauhid dengan mengutip nukilan kitab ar-Risalah al-Qusyairiyyah karya Imam al-Qusyairi. Berikut sejumlah manfaat zikir tauhid yang justru banyak dilupakan umat Islam saat ini:
Menurut Imam al-Qusyairi, zikir kalimat tauhid pada setiap pagi sebanyak 1.000 kali dalam kondisi bersuci akan mempermudah membuka pintu rezeki.
Jika diucapkan dengan jumlah yang sama menjelang tidur, ruh orang tersebut akan bermalam di Arsy dan mengambil asupan sekuatnya dari alam tersebut.
Bila dilafalkan pada siang, setan akan melemah. Banyak lagi khasiat langsung dari zikir kalimat tauhid seperti menyingkirkan kejahatan dan membuka tabir alam gaib. Ini sebagaimana hadis riwayat at-Tirmidzi yang menyebutkan bahwa kalimat tauhid menegasikan hijab antara Allah SWT hingga benar-benar membersihkannya.
Syekh Idrus juga menyertakan riwayat penguat manfaat zikir bahwa zikir kalimat tauhid adalah zikir pelebur dosa yang bisa mengantarkan seseorang ke surga dan selamat dari api neraka.
Bahkan dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan, kalimat tauhid adalah kunci surga.
Menurut Abu al-Fadhl al-Jauhari, kalimat tauhid juga merupakan zikir segala apa yang ada di surga, termasuk pepohonan dan sungai-sungainya yang indah. Sesaat para penghuni surga masuk, mereka akan mendengar lantunan kalimat tauhid itu secara merdu. Sebagian pun lantas berucap zikir yang banyak dilupakan sewaktu berada di dunia.
Kalimat tauhid juga kerap dijadikan resep oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani kepada siapapun yang mengeluhkan kemaksiatan kepada tokoh sufi tersebut. Nasihat berupa kalimat tauhid itu membuat pencinta khamar dan pelaku zina, atas seizin Allah SWT, akhirnya bertobat berkat bacaan zikir tauhid.
Thursday, February 14, 2019
Manusia Zuhud Ini Wafat di Turki, Tapi Makamnya Pindah Sendiri ke Madinah Mendekati Rasulullah SAW
Manusia Zuhud Ini Wafat di Turki, Tapi Makamnya Pindah Sendiri ke Madinah Mendekati Rasulullah
Sebuah video pendek tentang kisah kisah menarik manusia yang alim dan zuhud dalam ibadahnya sehingga memperoleh keistimewaan dari Allah.
Salah satu kisah berasal dari Turki.
Seorang tua yang alim zuhud, penduduk asli Turki, satu hari meninggal. Dia dikuburkan dikampung asalnya di Turki. Selama hidupnya, orang tua ini dikenal sangat cinta dengan Al Quran, dan hobinya membaca Al Quran. Sehingga ketika dia tua sempat berwasiat jika nanti meninggal dia minta dikuburkan dengan Al Quran yang dia cintai semasa hidupnya.
Al Quran itu ditulis oleh orang tua ini memakai tangannya sendiri. Dia menulis Al Quran dengan huruf yang lebih besar karena matanya yang rabun berat, tidak bisa membaca mushaf dengan huruf kecil. Sehingga Al Quran tulisan tangan dia memang khas dan unik.
Setahun kemudian anaknya naik haji ke Mekah dan ziarah ke Madinah. Dan betapa terkejut anak ini ketika tahu disebuah toko buku dijual Al Quran tulisan tangan almarhum orang tuanya. Bagaimana mungkin Al Quran yang telah dikubur bersama orang tuanya setahun silam di Turki kini ada dijual disebuah toko buku di Madinah?
Kejutan berikutnya yang membuat si anak kaget, dia lantas mengetahui jika ternyata jenazah orang tuanya juga pindah dan dimakamkan di Madinah. Kuburan orang tuanya dikuburkan berdekatan dengan makam Baginda Rasulullah SAW.
Kisah Cinta Dahsyat Seorang Anak Kecil Kepada Nabi Muhammad Yang Terbawa Hingga Matinya
Sebuah video pendek tentang kisah kisah menarik manusia yang alim dan zuhud dalam ibadahnya sehingga memperoleh keistimewaan dari Allah.
Salah satu kisah berasal dari Turki.
Seorang tua yang alim zuhud, penduduk asli Turki, satu hari meninggal. Dia dikuburkan dikampung asalnya di Turki. Selama hidupnya, orang tua ini dikenal sangat cinta dengan Al Quran, dan hobinya membaca Al Quran. Sehingga ketika dia tua sempat berwasiat jika nanti meninggal dia minta dikuburkan dengan Al Quran yang dia cintai semasa hidupnya.
Al Quran itu ditulis oleh orang tua ini memakai tangannya sendiri. Dia menulis Al Quran dengan huruf yang lebih besar karena matanya yang rabun berat, tidak bisa membaca mushaf dengan huruf kecil. Sehingga Al Quran tulisan tangan dia memang khas dan unik.
Setahun kemudian anaknya naik haji ke Mekah dan ziarah ke Madinah. Dan betapa terkejut anak ini ketika tahu disebuah toko buku dijual Al Quran tulisan tangan almarhum orang tuanya. Bagaimana mungkin Al Quran yang telah dikubur bersama orang tuanya setahun silam di Turki kini ada dijual disebuah toko buku di Madinah?
Kejutan berikutnya yang membuat si anak kaget, dia lantas mengetahui jika ternyata jenazah orang tuanya juga pindah dan dimakamkan di Madinah. Kuburan orang tuanya dikuburkan berdekatan dengan makam Baginda Rasulullah SAW.
Kisah Cinta Dahsyat Seorang Anak Kecil Kepada Nabi Muhammad Yang Terbawa Hingga Matinya
Wednesday, February 13, 2019
Tiap Hari Kita Bermaksiat, Tapi Allah Tetap Cinta Kepada Kita
Menggetarkan hati isi video pendek ini, sebuah hadits Qudsi betapa Allah cinta kepada hambanya
Otak Cerdas Makan Buah Tin dan Zaitun dan Kisah Arsitek Mualaf Membuat Rumah Terbaik Sesuai Deskripsi Al Quran
Buah Tin dan Zaitun termasuk buah yang dikenal dengan baik oleh ummat Islam. Memakan buah ini dengan takaran yang tepat akan membuat otak menjadi cerdas.
Seorang mualaf arsitek ternama membuat desain rumah masa depan terbaik menurut ayat Al Quran. Dia membaca banyak surah di Quran yang mengatakan bahwa penghuni surga akan menempati istana megah yang dibawahnya mengalir sungai sungai jernih. Ide ini dijiplak oleh dia dan membuat rumah mewah yang dibawahnya dialiri sungai sesuai deskripsi Al Quran.
Seorang mualaf arsitek ternama membuat desain rumah masa depan terbaik menurut ayat Al Quran. Dia membaca banyak surah di Quran yang mengatakan bahwa penghuni surga akan menempati istana megah yang dibawahnya mengalir sungai sungai jernih. Ide ini dijiplak oleh dia dan membuat rumah mewah yang dibawahnya dialiri sungai sesuai deskripsi Al Quran.
Friday, December 21, 2018
TERBUKANYA HATI IMAM JUNAID AL-BAGHDADI KARENA CINTA AHLUL BAIT
TERBUKANYA HATI IMAM JUNAID AL-BAGHDADI KARENA CINTA AHLUL BAIT
Di waktu mudanya Imam Junaid al-Baghdadi adalah seorang yang memiliki badan kekar dan menunjang hidupnya dengan cara bermata pencaharian sebagai pegulat profesional. Dan seperti biasa, setiap tahunnya diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad dan mereka mengumumkan :
"Hari ini, Junaid Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat, apakah ada orang yang berani menantangnya?" Lalu seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata :
"Aku akan ikut masuk kontes ini dan menantang dia."
Siapapun yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka meledak tertawa dan bertepuk tangan. Raja pun sudah terikat oleh aturan hukum. Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang dari kehendak bebasnya sendiri ingin memasuki pertarungan.
Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring. Ia berusia sekitar 65 tahun. Ketika sang juara bertahan Junaid al-Baghdadi memasuki ring, ia tercengang sebagaimana Raja dan semua penonton yang hadir. Semua memiliki pikiran yang sama, "Bagaimana mungkin orang tua ini akan mampu melawan dan menang?" Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata :
"Dekatkanlah aku kepada telingamu,Dengarkan kata-kataku," Ia kemudian berbisik : *"Aku tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk memenangkan pertarungan ini. Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad ﷺ. Anak-anakku sedang kelaparan di rumah. Apakah engkau siap untuk mengorbankan namamu, kehormatan dan posisimu untuk cinta pada Nabi Allah dan kehilangan pertarungan ini karenaku.?
Jika engkau melakukan hal ini, aku akan dapat mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian memiliki sarana untuk memberi makan anak-anakku dan aku sendiri dapat memenuhi kebutuhan selama satu tahun penuh. Aku akan dapat menyelesaikan pembayaran semua hutangku dan di atas semuanya, Rasulullah ﷺ akan senang/ridha dengan engkau. Apakah engkau, wahai Junaid, tidak bersedia mengorbankan kehormatanmu demi anak-anak cucu Rasulullah?"
Junaid al-Baghdadi berpikir sejenak dan berkata : "Toyyib, hari ini aku memiliki kesempatan yang sangat baik." Akhirnya dengan tampilan yang bersemangat Junaid al-Baghdadi menunjukkan beberapa manuver, menunjukkan kemahiran bergulatnya sehingga Raja tidak menduga ada konspirasi apapun. Junaid dengan kemahiran yang luar biasa, tak mempergunakan kekuatan penuhnya mampu membuat dirinya sendiri terjatuh, ditindihi orang tua itu.
MasyaAllah Tabarakallah!!
Dan dengan kerendahan hatinya, Junaid pun memproklamirkan akan kekalahannya. Sehingga ia memberikan hak kepada orang tua itu sebagai pemenang dan meraih hadiahnya. Kemudian tiba-tiba saja di malam harinya, Junaid al Baghdadi bermimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang mengatakan :
*"Duhai Junaid, engkau telah mengorbankan kehormatanmu, ketenaranmu yang telah diakui di seantero negeri. Nama dan posisi yang digembar-gemborkan di seluruh penjuru Baghdad bertukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang kelaparan. Pada hari ini dan abadi untuk seterusnya, namamu akan tercatat dalam daftar Auliya' (wali Allah)."
Setelah itu, pegulat besar ini berhasil belajar untuk mengalahkan nafsunya dan menjadi salah satu Waliyullah paling terkemuka pada masanya.
Laa haula walaa quwwata illa billah.
kitab "Tajalliyat al-Jadzb" karya asy-Syaikh Muhammad Hakim Akhtar.
اللهم ارزقنا محبة اهل البيت
Madras Ribath
Di waktu mudanya Imam Junaid al-Baghdadi adalah seorang yang memiliki badan kekar dan menunjang hidupnya dengan cara bermata pencaharian sebagai pegulat profesional. Dan seperti biasa, setiap tahunnya diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad dan mereka mengumumkan :
"Hari ini, Junaid Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat, apakah ada orang yang berani menantangnya?" Lalu seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata :
"Aku akan ikut masuk kontes ini dan menantang dia."
Siapapun yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka meledak tertawa dan bertepuk tangan. Raja pun sudah terikat oleh aturan hukum. Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang dari kehendak bebasnya sendiri ingin memasuki pertarungan.
Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring. Ia berusia sekitar 65 tahun. Ketika sang juara bertahan Junaid al-Baghdadi memasuki ring, ia tercengang sebagaimana Raja dan semua penonton yang hadir. Semua memiliki pikiran yang sama, "Bagaimana mungkin orang tua ini akan mampu melawan dan menang?" Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata :
"Dekatkanlah aku kepada telingamu,Dengarkan kata-kataku," Ia kemudian berbisik : *"Aku tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk memenangkan pertarungan ini. Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad ﷺ. Anak-anakku sedang kelaparan di rumah. Apakah engkau siap untuk mengorbankan namamu, kehormatan dan posisimu untuk cinta pada Nabi Allah dan kehilangan pertarungan ini karenaku.?
Jika engkau melakukan hal ini, aku akan dapat mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian memiliki sarana untuk memberi makan anak-anakku dan aku sendiri dapat memenuhi kebutuhan selama satu tahun penuh. Aku akan dapat menyelesaikan pembayaran semua hutangku dan di atas semuanya, Rasulullah ﷺ akan senang/ridha dengan engkau. Apakah engkau, wahai Junaid, tidak bersedia mengorbankan kehormatanmu demi anak-anak cucu Rasulullah?"
Junaid al-Baghdadi berpikir sejenak dan berkata : "Toyyib, hari ini aku memiliki kesempatan yang sangat baik." Akhirnya dengan tampilan yang bersemangat Junaid al-Baghdadi menunjukkan beberapa manuver, menunjukkan kemahiran bergulatnya sehingga Raja tidak menduga ada konspirasi apapun. Junaid dengan kemahiran yang luar biasa, tak mempergunakan kekuatan penuhnya mampu membuat dirinya sendiri terjatuh, ditindihi orang tua itu.
MasyaAllah Tabarakallah!!
Dan dengan kerendahan hatinya, Junaid pun memproklamirkan akan kekalahannya. Sehingga ia memberikan hak kepada orang tua itu sebagai pemenang dan meraih hadiahnya. Kemudian tiba-tiba saja di malam harinya, Junaid al Baghdadi bermimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang mengatakan :
*"Duhai Junaid, engkau telah mengorbankan kehormatanmu, ketenaranmu yang telah diakui di seantero negeri. Nama dan posisi yang digembar-gemborkan di seluruh penjuru Baghdad bertukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang kelaparan. Pada hari ini dan abadi untuk seterusnya, namamu akan tercatat dalam daftar Auliya' (wali Allah)."
Setelah itu, pegulat besar ini berhasil belajar untuk mengalahkan nafsunya dan menjadi salah satu Waliyullah paling terkemuka pada masanya.
Laa haula walaa quwwata illa billah.
kitab "Tajalliyat al-Jadzb" karya asy-Syaikh Muhammad Hakim Akhtar.
اللهم ارزقنا محبة اهل البيت
Madras Ribath
Tuesday, December 11, 2018
Kisah Syekh Abdurrahman Yang Dimuliakan Allah Karena Sabar Dengan Istrinya Yang Kasar Cerewet
Kisah Syekh Abdurrahman Yang Dimuliakan Allah Karena Sabar Dengan Istrinya Yang Kasar Cerewet
Habib Hud Alatas
أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
" منقبة الشيخ عبد الرحمن بن أحمد الباجلحبانى "
Pada zaman dahulu di sebuah desa bernama Bajalhaban di negeri Hadramaut, Yaman tersebutlah seorang shaleh yang dikenal dengan nama Syekh Abdurrahman bin Ahmad Bajalhaban, beliau adalah seorang wali yang memeliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt, namun beliau tidak mengetahui dirinya memiliki keistimewaan seperti itu.
Beliau dikaruniai oleh Allah Swt seorang istri yang sangat cerewet. Setiap harinya istrinya hanya marah dan mengomel. Sedangkan Syekh Abdurrahman bin Ahmad Bajalhaban adalah orang yang sabar, beliau selalu menghadapi istrinya dengan penuh kesabaran. Tidak pernah beliau membalas keburukan dengan keburukan, omelan dengan omelan. Seandainya beliau menghadapi sifat keras istrinya dengan kekerasan. Kemungkinan rumah tangga beliau selalu dihiasi pertengkaran setiap hari.
Suatu hari beliau mempunyai keinginan berkhalawat atau Menyepi untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt di sebuah tempat bersama orang-orang yang beribadah. Beliau merasa lebih baik beribadah dari pada terus-terusan bersama istri yang kerjanya selalu ngomel terus.
Syekh Abdurrahman pun pamit kepada istrinya dan seperti biasa jawabannya penuh dengan kata-kata kasar. Syekh Abdurrahman naik ke gunung terdekat dari kotanya dan di tempat itu Syekh Abdurrahman menemukan sekelompok orang yang sedang beribadah di sebuah goa.
Singkat cerita beliau dapat bergabung bersama mereka dengan syarat harus mau piket mencari makan untuk mereka sebagaimana adat mereka menentukan piket para anggota untuk mencari makan secara bergantian setiap harinya.
Suatu hari Syekh Abdurrahman mendapat giliran piket, beliau bingung harus mencari makanan di mana. “Lebih baik aku meminta kepada Allah” gumam beliau, “Tetapi dengan siapakah aku harus bertawassul? Ah, lebih baik aku bertawassul dengan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu, meskipun aku tidak tahu siapakah yang mereka tawassuli” kata beliau dalam hati.
Maka beliau pun duduk di tempat sepi mengangkat tangan sambil berdo’a, “Ya Allah berkat kemulyaan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu maka turunkanlah untukku dan teman-temanku makanan yang lezat”. Seketika turunlah makanan-makanan yang lezat, beliau pun kaget serta kagum betapa tinggi kedudukan wali yang ditawassuli oleh teman-temannya sehingga sekali tawassul do’a langsung terkabul.
Sahabat-sahabat Syekh Abdurrahman kaget di saat beliau datang membawa makanan yang demikian lezat, mereka bertanya bagaimana bisa mendapatkannya? Syekh Abdurrahman pun menceritakan semua kejadian yang di alaminya.
Kemudian Syekh Abdurrahman bertanya, “Siapakah orang yang kalian tawassuli itu? Demi Allah kalau bukan karena bertawassul dengan beliau belum tentu do’aku akan terkabul dengan spontan seperti yang kalian lihat”
Mereka pun bercerita, “Ketahuilah di desa Bajalhaban dekat pegunungan ini ada orang yang shaleh dan penyabar. Beliau memiliki istri yang cerewet, namun begitu beliau sangat sabar terhadap istrinya dan tidak pernah membalas keburukan istrinya dengan keburukan yang sama. Karena kesabarannya inilah Allah mengangkat derajat beliau setinggi-tingginya. Beliau dikenal dengan sebutan Syekh Abdurrahman Bajalhaban dan kami selalu bertawassul kepada Allah dengan kemulyaan beliau”.
Mendengar cerita ini Syekh Abdurrahman Bajalhaban kaget, setinggi inikah nilai kesabaran dirinya di sisi Allah Swt? Maka Syekh Abdurrahman pun pamit untuk pulang ke desanya tanpa mengemukakan alasan yang jelas. Karena beliau menganggap hidup bersabar bersama istri cerewet ternyata memiliki nilai lebih besar dari pada berkhalwat bersama orang-orang yang beribadah. AbdurrahmanDan sahabat-sahabatnya mempersilahkan beliau pulang tanpa mengetahui apa alasan beliau dan siapakah beliau sebenarnya, karena memang beliau tidak pernah memperkenalkan nama beliau kepada mereka.
Makamnya terletak tidak jauh dari kota Tarim, tepatnya di desa Ramlah. Lokasinya berada di tanah lapang dan jauh dari pemukiman penduduk. Dari jalan utama, bangunan makamnya yang bercat putih tampak terlihat jelas.
كُنۡ يَا أَخِيۡ مَنۡ يَصۡبِرُ عَلَى الۡبَلَا # وَطَاعَةٍ مَعۡصِيَةٍ ثُمَّ اۡلأَلَى
Wahai Saudaraku..
Jadilah kamu orang yang sabar menghadapi cobaan dan ujian..
Sabar melaksanakan ketaatan..
Sabar meninggalkan kemaksiatan..
Sabar mensyukuri kenikmatan..
لَكَ مَنَازِلٌ عَظِيۡمَةٌ بِلَا # حَدٍّ وَعَدٍّ عِنۡدَ رَبٍّ قَدۡ عَلَا
Maka kamu akan mendapatkan kedudukan keagungan..
Tanpa batas dan hitungan..
Di sisi Allah Tuhan yang sungguh menguasai dan memiliki keluhuran..
نفعنا الله بهذه القصة القصيرة المتأثرة منفعة تامة عامة
بركة عمدتى القرشية
فى صباح الإثنين المبارك
٢ ربيع الثانى ١٤٤٠ الهجري/١٠ ديسمبر ٢٠١٨ المسيحي
Habib Hud Alatas
أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
" منقبة الشيخ عبد الرحمن بن أحمد الباجلحبانى "
Pada zaman dahulu di sebuah desa bernama Bajalhaban di negeri Hadramaut, Yaman tersebutlah seorang shaleh yang dikenal dengan nama Syekh Abdurrahman bin Ahmad Bajalhaban, beliau adalah seorang wali yang memeliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt, namun beliau tidak mengetahui dirinya memiliki keistimewaan seperti itu.
Beliau dikaruniai oleh Allah Swt seorang istri yang sangat cerewet. Setiap harinya istrinya hanya marah dan mengomel. Sedangkan Syekh Abdurrahman bin Ahmad Bajalhaban adalah orang yang sabar, beliau selalu menghadapi istrinya dengan penuh kesabaran. Tidak pernah beliau membalas keburukan dengan keburukan, omelan dengan omelan. Seandainya beliau menghadapi sifat keras istrinya dengan kekerasan. Kemungkinan rumah tangga beliau selalu dihiasi pertengkaran setiap hari.
Suatu hari beliau mempunyai keinginan berkhalawat atau Menyepi untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt di sebuah tempat bersama orang-orang yang beribadah. Beliau merasa lebih baik beribadah dari pada terus-terusan bersama istri yang kerjanya selalu ngomel terus.
Syekh Abdurrahman pun pamit kepada istrinya dan seperti biasa jawabannya penuh dengan kata-kata kasar. Syekh Abdurrahman naik ke gunung terdekat dari kotanya dan di tempat itu Syekh Abdurrahman menemukan sekelompok orang yang sedang beribadah di sebuah goa.
Singkat cerita beliau dapat bergabung bersama mereka dengan syarat harus mau piket mencari makan untuk mereka sebagaimana adat mereka menentukan piket para anggota untuk mencari makan secara bergantian setiap harinya.
Suatu hari Syekh Abdurrahman mendapat giliran piket, beliau bingung harus mencari makanan di mana. “Lebih baik aku meminta kepada Allah” gumam beliau, “Tetapi dengan siapakah aku harus bertawassul? Ah, lebih baik aku bertawassul dengan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu, meskipun aku tidak tahu siapakah yang mereka tawassuli” kata beliau dalam hati.
Maka beliau pun duduk di tempat sepi mengangkat tangan sambil berdo’a, “Ya Allah berkat kemulyaan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu maka turunkanlah untukku dan teman-temanku makanan yang lezat”. Seketika turunlah makanan-makanan yang lezat, beliau pun kaget serta kagum betapa tinggi kedudukan wali yang ditawassuli oleh teman-temannya sehingga sekali tawassul do’a langsung terkabul.
Sahabat-sahabat Syekh Abdurrahman kaget di saat beliau datang membawa makanan yang demikian lezat, mereka bertanya bagaimana bisa mendapatkannya? Syekh Abdurrahman pun menceritakan semua kejadian yang di alaminya.
Kemudian Syekh Abdurrahman bertanya, “Siapakah orang yang kalian tawassuli itu? Demi Allah kalau bukan karena bertawassul dengan beliau belum tentu do’aku akan terkabul dengan spontan seperti yang kalian lihat”
Mereka pun bercerita, “Ketahuilah di desa Bajalhaban dekat pegunungan ini ada orang yang shaleh dan penyabar. Beliau memiliki istri yang cerewet, namun begitu beliau sangat sabar terhadap istrinya dan tidak pernah membalas keburukan istrinya dengan keburukan yang sama. Karena kesabarannya inilah Allah mengangkat derajat beliau setinggi-tingginya. Beliau dikenal dengan sebutan Syekh Abdurrahman Bajalhaban dan kami selalu bertawassul kepada Allah dengan kemulyaan beliau”.
Mendengar cerita ini Syekh Abdurrahman Bajalhaban kaget, setinggi inikah nilai kesabaran dirinya di sisi Allah Swt? Maka Syekh Abdurrahman pun pamit untuk pulang ke desanya tanpa mengemukakan alasan yang jelas. Karena beliau menganggap hidup bersabar bersama istri cerewet ternyata memiliki nilai lebih besar dari pada berkhalwat bersama orang-orang yang beribadah. AbdurrahmanDan sahabat-sahabatnya mempersilahkan beliau pulang tanpa mengetahui apa alasan beliau dan siapakah beliau sebenarnya, karena memang beliau tidak pernah memperkenalkan nama beliau kepada mereka.
Makamnya terletak tidak jauh dari kota Tarim, tepatnya di desa Ramlah. Lokasinya berada di tanah lapang dan jauh dari pemukiman penduduk. Dari jalan utama, bangunan makamnya yang bercat putih tampak terlihat jelas.
كُنۡ يَا أَخِيۡ مَنۡ يَصۡبِرُ عَلَى الۡبَلَا # وَطَاعَةٍ مَعۡصِيَةٍ ثُمَّ اۡلأَلَى
Wahai Saudaraku..
Jadilah kamu orang yang sabar menghadapi cobaan dan ujian..
Sabar melaksanakan ketaatan..
Sabar meninggalkan kemaksiatan..
Sabar mensyukuri kenikmatan..
لَكَ مَنَازِلٌ عَظِيۡمَةٌ بِلَا # حَدٍّ وَعَدٍّ عِنۡدَ رَبٍّ قَدۡ عَلَا
Maka kamu akan mendapatkan kedudukan keagungan..
Tanpa batas dan hitungan..
Di sisi Allah Tuhan yang sungguh menguasai dan memiliki keluhuran..
نفعنا الله بهذه القصة القصيرة المتأثرة منفعة تامة عامة
بركة عمدتى القرشية
فى صباح الإثنين المبارك
٢ ربيع الثانى ١٤٤٠ الهجري/١٠ ديسمبر ٢٠١٨ المسيحي
Sunday, November 25, 2018
Kisah Cinta Dahsyat Seorang Anak Kecil Kepada Nabi Muhammad Yang Terbawa Hingga Matinya
DAHSYATNYA CINTA YANG LUAR BIASA DARI SEORANG ANAK KECILKEPADA NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM BAHKAN SAMPAI
ANAK ITU DIKUBURKAN
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Terjadi satu kisah di zaman Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i.
Ketika sedang berkumpul dengan rombongan kafilahnya di kota Zabid (ujung kota Yaman) mereka bersiap akan berziarah ke makam Sayyidina Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam di kota Madinah.
Jarak perjalanannya membutuhkan waktu selama 2 minggu.
Ketika rombongan tadi hendak bergerak ke kota Madinah datang seorang anak kecil usia sekitar 8 tahun, Dan anak ini berkata: wahai syeikh aku hendak ikut ziarah ke makam Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam.
Tapi permintaan anak kecil itu tidak diizinkan oleh syeikh, karena kau nanti membuat susah, orang hendak ke sini kau hendak kesana.
Lalu syeikh bertanya kepada anak kecil itu, kenapa kau sangat ingin ikut.
Lalu anak itu berkata, wahai syeikh percayalah "Aku sangat rindu dengan Rasulullah".
Namun dijawabnya, ''Sudahlah kau tetap tak boleh ikut.''
Maka berjalanlah rombongan tadi. Setibanya di kota Madinah tepatnya dimakamnya
Sayyidina Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam, terkejutlah Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i
karena melihat anak kecil itu ada dihadapannya.
''Wahai anak kecil, dari mana kau datang. Bagaimana kau bisa ikut.''
''Ketika kalian berangkat, aku masuk dalam kotak/peti ikut bersama rombongan ziarah
ke makam Sayyidina Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam.''
Kata Syeikh, "aku tidak heran kalau kau masuk peti, tapi selama 2 minggu kau makan dan minum dari mana, tidak makan dan tidak minum.''
''Wahai syeikh, sungguh, aku dilupakan dari makan dan minum karena sangat rindu kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam ''.
Anak kecil tadi pun bertanya;
''Wahai syeikh apakah benar tanah ini pernah di pijak Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam ?''
Kata syeikh ''ya'.'
Kemudian anak tersebut mengambil tanah itu lalu diciumnya tanah tersebut, terus anak kecil itu tiba-tiba roboh seperti sedang pingsan.
Rupanya anak kecil itu telah wafat.
Anak kecil itu di kebumikan di luar kota Madinah karena dia penduduk luar kota.
Kemudian (selesai penguburan) rombongan itu melanjutkan melakukan ibadah umrah.
Saat pulang kembali kekampung halaman, Syeikh ini teringat kepada anak tadi, lalu ia datang menziarahi makam anak itu.
Ketika syeikh melihat keadaan makam itu, dia menjadi bingung.
Karena kubur itu awalnya ada diluar kota Madinah tapi berangsur-angsur bergeser masuk kedalam kota Madinah mendekati makam Sayyidina Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam.
Maka menangislah Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i.
Sampai sekarang makam tersebut masih ada dan makam tersebut ada terletak di seberang Masjid Nabawi.
''Wahai anak kecil betapa hebat dan mulianya engkau, sewaktu kecil kau rindu hendak ziarah
ke makam Sayyidina Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam, dan sewaktu kau wafat kau juga rindu kepada Rasulullah...''
Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i pun menangis di dalam rumahnya
“Aku ini adalah seorang imam, tapi aku malu melihat kecintaan seorang anak
yang sangat mencintai Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam .
Dan sang Imam pun menulis riwayat perjalanan cinta dahsyat anak kecil tersebut di Maulidnya.
Hebatnya cinta anak kecil kepada Habibana Sayyidina Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam.
Allahumma sholli wasallim wabaarik alaih wa ala alaih washohbih.....
"Kitab Maulid Ad Diba'i"
(Cerita Para Wali)
Monday, September 24, 2018
Subscribe to:
Posts (Atom)
DOA MELAWAN ORANG JAHAT
Hidup tidak selalu bertemu dengan orang baik. View this post on Instagram A post shared by NU Online (@nuonline_...













